periskop.id - Gunung Semeru, yang menjulang di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya pada Senin pagi. Dalam kurun waktu beberapa jam, tercatat tujuh kali erupsi dengan tinggi kolom letusan bervariasi antara 300 hingga 1.100 meter di atas puncak.

Letusan pertama terjadi pada pukul 00.38 WIB. Kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal terlihat membumbung sekitar 1.000 meter ke arah barat daya. Seismograf mencatat amplitudo maksimum 23 mm dengan durasi 135 detik. Puncak erupsi terjadi pada pukul 06.51 WIB, ketika kolom abu mencapai ketinggian 1.100 meter. 

“Erupsi dengan letusan tertinggi terjadi pada pukul 06.51 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 1.100 meter di atas puncak,” ujar Liswanto, petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, melansir Antara, Senin (6/4).

Erupsi ketujuh berlangsung pada pukul 09.29 WIB, meski visual letusan tidak teramati. Saat laporan dibuat, aktivitas vulkanik masih berlanjut. Gunung Semeru sendiri berada pada status Level III (Siaga), yang berarti aktivitas vulkanik cukup tinggi dan berpotensi menimbulkan ancaman bagi masyarakat sekitar.

PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) mengeluarkan rekomendasi tegas. Warga dilarang beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak. Di luar radius tersebut, aktivitas juga tidak diperbolehkan dalam jarak 500 meter dari tepi sungai, karena potensi awan panas dan aliran lahar bisa meluas hingga 17 kilometer. 

“Masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru, karena rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar,” tambah Liswanto.

Selain Besuk Kobokan, jalur aliran lahar dan guguran lava juga perlu diwaspadai di Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan pun berpotensi dilanda lahar saat hujan deras turun. 

Data BNPB mencatat, Semeru merupakan gunung api paling aktif di Indonesia dengan lebih dari 100 erupsi setiap tahun. Catatan sejarah menunjukkan erupsi besar pada Desember 2021 menimbulkan korban jiwa dan kerusakan parah di Lumajang, sehingga kewaspadaan masyarakat kini menjadi hal yang mutlak.