periskop.id - Senin malam (27/4) menjadi momen kelam bagi dunia perkeretaapian Indonesia. Sekitar pukul 20.53 WIB, tabrakan keras terjadi di Stasiun Bekasi Timur antara CommuterLine jurusan Jakarta–Cikarang dengan Kereta Api Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek. Peristiwa ini menimbulkan kepanikan besar di antara ratusan penumpang yang berada di dalam rangkaian.

Munir, salah satu penumpang yang selamat, menceritakan detik-detik kejadian. Ia berada di gerbong keempat dari belakang saat CommuterLine berhenti di jalur 1. 

“CommuterLine yang berhenti lantaran CommuterLine yang berlawanan arah menabrak satu unit mobil taksi,” ujarnya dikutip dari Antara, Selasa (28/4). 

Beberapa menit kemudian, Argo Bromo Anggrek melaju dari arah belakang dan menghantam keras gerbong paling belakang CommuterLine. 

“Pokoknya ditabrak dari arah belakang, gerbong masinis kereta jarak jauh itu sampai menembus gerbong paling belakang CommuterLine,” tambahnya.

Benturan tersebut menyebabkan sejumlah penumpang di gerbong belakang terjepit. Munir mengaku beruntung bisa segera keluar. 

“Banyak itu ada korban di dalam terjebak, kalau saya pas kejadian langsung ke luar gerbong,” katanya.

Sementara itu, saksi mata lain menyebut beberapa penumpang tidak sadarkan diri akibat terhimpit lokomotif yang masuk ke dalam gerbong.

Menurut data Badan SAR Nasional (Basarnas), proses evakuasi berlangsung dramatis. Petugas harus bergantian memotong besi gerbong untuk menyelamatkan korban yang masih terjebak. PT KAI menyampaikan permohonan maaf atas insiden ini dan berkomitmen memberikan kompensasi kepada para korban. 

Hingga dini hari, tercatat 7 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka, sebagian dirawat di RSUD Bekasi dan rumah sakit rujukan lain.

Kecelakaan ini menambah daftar panjang insiden kereta api di Indonesia. Data Kementerian Perhubungan mencatat, sepanjang 2025 terdapat lebih dari 200 kasus kecelakaan kereta, sebagian besar terjadi di perlintasan sebidang. 

Faktor utama biasanya kendaraan yang menerobos jalur, sinyal yang terganggu, atau kesalahan teknis. Peristiwa di Bekasi Timur memperlihatkan betapa pentingnya sistem pengendalian lalu lintas kereta yang lebih ketat, termasuk integrasi teknologi deteksi dini tabrakan.

Menteri Perhubungan menegaskan bahwa investigasi menyeluruh akan dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti.