periskop.id - Manager Public Relations KAI Commuter Leza Arlan menjelaskan gangguan sarana Commuter Line No. 1978A relasi Duri – Tangerang mengakibatkan kereta terhenti di perlintasan sebidang RT 01/RW 11 Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat.

 

Advertisement

"Gangguan tersebut berdampak pada Listrik Aliran Atas (LAA) yang harus dipadamkan, sehingga jalur hulu Duri- Rawabuaya belum dapat dilalui," ujar Leza dikutip dari Antara, Selasa (26/5) malam.

 

Pihak manajemen menyampaikan permohonan maaf mendalam terkait insiden yang mengganggu kenyamanan para pengguna moda transportasi publik tersebut.

 

Petugas gabungan segera meluncur ke lokasi kejadian guna melakukan penanganan cepat sekaligus menormalisasi jalur secepatnya.

 

"Commuter Line No. 1978A akan digandeng dengan Commuter Line No. 1980A menuju jalur tiga Stasiun Rawa Buaya untuk pemeriksaan lebih lanjut," kata Leza.

 

Proses evakuasi rangkaian kereta beserta pemadaman listrik aliran atas memicu penyesuaian operasional serta keterlambatan perjalanan KRL lintas Duri-Tangerang.

 

Manajemen mengimbau seluruh pengguna jasa kereta tetap tenang, mengikuti setiap instruksi petugas lapangan, serta mengutamakan keselamatan bersama.

 

"Untuk informasi update secara berkala melalui akun resmi media sosial @commuterline dan aplikasi C-Access serta call center 121," ucap Leza.

 

Sebelum rangkaian kereta terhenti total pada Selasa sore, kepanikan sempat melanda para penumpang di dalam gerbong.

 

Seorang penumpang bernama Tasya (25) mengaku mendengar suara ledakan hingga tiga kali sebelum KRL mendadak mati total di perlintasan Rawa Buaya.

 

"Tadi dengar ada ledakan. Jadi ledak gitu, (kereta) mati, (kereta) hidup lagi, ledak lagi, terus mati, hidup, ledak lagi, terus mati lagi. Enggak lama, kereta berhenti sampai sekarang. Ledakannya dari dalam KRL, kayak 'dug' gitu bunyinya," tutur Tasya.

 

Suara keras tersebut seketika membuat sistem pencahayaan di dalam gerbong padam, hingga memicu histeria massal para penumpang.

 

Kondisi mencekam itu membuat pengguna jalan asal Kampung Bandan menuju Tangerang ini memilih turun karena khawatir akan keselamatan dirinya.

 

"Saya kan berangkat dari Kampung Bandan mau ke Tangerang. Tadi turun di sini (perlintasan sebidang RT 01 / RW 11 Rawa Buaya). Pintunya (KRL) terbuka akhirnya tadi," ungkap Tasya.

 

Kesaksian serupa datang dari Butar (45), penumpang lain yang berada di gerbong tiga saat insiden menegangkan itu terjadi sekitar pukul 17.00 WIB.

 

"Saya tadi di gerbong tiga, terus dengar ada ledakan dari gerbong tiga. Tiga kali (bunyi ledakan), sekitar jam 17.00 tadi," jelas Butar.

 

Sesaat setelah ledakan mereda, Butar langsung bergegas pindah ke gerbong paling depan demi mengamankan diri.

 

Berbeda dengan penumpang yang turun, Butar bersama sebagian orang memilih bertahan di dalam kereta hingga situasi kembali normal.