Periskop.id - Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia mulai menghentikan impor solar sejak Juli 2026. Ia menyebut langkah itu dilakukan setelah pemerintah berhasil mengembangkan bahan bakar diesel berbasis minyak sawit B50.

Prabowo menjelaskan, Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang mampu menghasilkan solar dengan campuran 50% biodiesel berbahan baku kelapa sawit. Menurutnya, program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian energi nasional.

Dalam pidatonya di acara Panen Raya TNI dalam Mendukung Program Ketahanan Pangan di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (t/b), Prabowo mengatakan Indonesia sudah mampu memproduksi B50 secara mandiri. "Sebelumnya, kita berhasil menjadi negara pertama di dunia yang menghasilkan B50. Kita sekarang hasilkan solar dari kelapa sawit. Jadi, dari mulai bulan Juli ini kita tidak impor solar lagi dari luar negeri," ujar Prabowo dalam siaran Sekretariat Presiden di Jakarta, Jumat.

Ia menilai penghentian impor solar akan memberikan dampak ekonomi positif karena anggaran pembelian bahan bakar dari luar negeri dapat dialihkan untuk kebutuhan dalam negeri. Menurutnya, perputaran uang tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk petani sawit.

Prabowo mengatakan pemerintah terus mempercepat pengembangan energi berbasis sumber daya domestik. Ia menyebut langkah itu dilakukan untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan bahan bakar dari luar negeri.

Selain menjalankan program B50, pemerintah juga mulai mengembangkan bahan bakar bensin campuran etanol 10% atau E10. Prabowo menjelaskan pengembangan tersebut menjadi tahap awal menuju penggunaan bioetanol dengan komposisi yang lebih besar.

Pemerintah menargetkan peningkatan penggunaan campuran bioetanol hingga mencapai E20. Untuk mendukung target itu, pembangunan fasilitas produksi bioetanol baru akan dipercepat.

Menurut Prabowo, kapasitas produksi bioetanol nasional saat ini masih terbatas karena Indonesia baru memiliki satu pabrik bioetanol. Kondisi tersebut dinilai membuat pemerintah perlu meningkatkan jumlah fasilitas produksi.

Sebelumnya, pengembangan B50 menjadi salah satu langkah pemerintah dalam memperluas penggunaan energi berbasis kelapa sawit. Program tersebut diarahkan untuk memanfaatkan sumber daya domestik sebagai bahan bakar alternatif.

Prabowo menegaskan, penggunaan energi berbasis sawit dan pengembangan bioetanol menjadi bagian dari strategi pemerintah membangun kemandirian energi nasional. "Lebih baik uang itu beredar di Indonesia, dinikmati oleh petani-petani sawit di seluruh Indonesia," kata Prabowo.