Periskop.id — Presiden Prabowo Subianto menargetkan pembangunan sedikitnya 30 pabrik bioetanol baru dan membuka kemungkinan jumlahnya ditambah menjadi 50 unit. Proyek tersebut disiapkan untuk mengejar penerapan BBM E20 sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bensin.

E20 merupakan bahan bakar yang terdiri atas campuran 80% bensin dan 20% etanol. Prabowo menyampaikan rencana tersebut ketika memberikan arahan dalam kegiatan panen raya bersama TNI di Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7).

“Tadi para petugas mengatakan kita bisa sampai E20. Butuh pabrik, tadi pabriknya yang baru kita miliki baru satu pabrik. Tadi saya putuskan kita akan bangun minimal 30 pabrik, kalau perlu sampai 50 pabrik,” kata Presiden Prabowo.

Prabowo juga meminta Kementerian Pertanian mempercepat program peremajaan tanaman tebu agar selesai dalam dua tahun. Target sebelumnya menetapkan proses tersebut berlangsung selama empat tahun. Luas perkebunan tebu Indonesia pada 2025 tercatat sekitar 540.000 hektare.

E20 Butuh 4 Juta Kiloliter Etanol Setiap Tahun

Ambisi membangun puluhan pabrik muncul di tengah besarnya kebutuhan bahan baku untuk menjalankan E20 secara nasional. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memperkirakan konsumsi bensin Indonesia mencapai sekitar 40 juta kiloliter per tahun.

Apabila seluruh bensin menggunakan campuran 20% etanol, Indonesia membutuhkan sekitar 4 juta kiloliter bioetanol setiap tahun. Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan kapasitas yang tersedia dan proyek bioetanol yang sedang disiapkan.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan kapasitas produksi bensin domestik sebelumnya hanya sekitar 14,3 juta kiloliter per tahun. Tambahan produksi 5,5 juta kiloliter dari pengembangan Kilang Balikpapan diperkirakan masih menyisakan kebutuhan impor sekitar 20 juta kiloliter.

“Kebutuhan bensin kita itu kurang lebih sekitar 40 juta kiloliter, dan dari 40 juta kiloliter itu, kapasitas produksi kita itu hanya 14,3 juta kiloliter jadi impornya hampir 25 juta kiloliter, namun begitu kilang Balikpapan kita resmikan di bulan Januari 2026 bertambah produksinya 5,5 juta kiloliter bensin, sehingga menyisakan impor bensin sekitar 20 juta kiloliter,” ujar Bahlil.

Pemerintah berharap penggantian sebagian bensin dengan etanol produksi dalam negeri dapat memangkas impor sekaligus menciptakan pasar baru bagi komoditas pertanian.

Target Sebelumnya Tertunda karena Kekurangan Pasokan

Rencana E20 diperkirakan tidak dapat diterapkan secara langsung. Pemerintah masih harus melewati tahap pencampuran lebih rendah, memperbesar produksi etanol, meningkatkan mutu bensin dasar, serta menyiapkan fasilitas penyimpanan dan distribusi.

Indonesia sebelumnya menargetkan penerapan E5 atau bensin dengan campuran etanol 5% pada 2025. Namun, target tersebut tidak tercapai karena pasokan etanol belum mencukupi.

Pemerintah kemudian menetapkan target mandatori E10 pada 2028. Produksi bioetanol pada tahun tersebut diproyeksikan baru mencapai sekitar 800.000 kiloliter, atau seperlima dari kebutuhan etanol apabila E20 diterapkan secara nasional.

Laporan Reuters terbaru menyebut pemerintah berencana memperluas penggunaan E5 untuk bensin nonsubsidi di Pulau Jawa selama periode 2026 sampai 2027, kemudian menaikkan campurannya menjadi E10 pada 2028. Dengan demikian, E20 masih menjadi target lanjutan yang keberhasilannya sangat bergantung pada pembangunan kapasitas produksi.

Salah satu proyek yang sedang disiapkan adalah pabrik bioetanol berkapasitas 30.000 kiloliter per tahun di Jawa Timur. Pabrik tersebut dikembangkan oleh Pertamina bersama PT Perkebunan Nusantara sebagai bagian dari proyek hilirisasi sumber daya alam yang didukung Danantara.

Kapasitas tersebut menunjukkan besarnya pekerjaan yang harus dilakukan. Pemerintah bukan hanya perlu membangun lebih banyak pabrik, tetapi juga menentukan kapasitas setiap fasilitas agar total produksi dapat mendekati kebutuhan nasional sebesar 4 juta kiloliter.

Tebu, Singkong, dan Jagung Jadi Bahan Baku

Bioetanol akan dikembangkan menggunakan sejumlah bahan baku, seperti tebu, singkong, dan jagung. Pemerintah berencana menjadi pembeli utama agar hasil produksi petani dan pabrik memiliki kepastian pasar.

“Untuk mengurangi impor yang tersisa 20 juta kiloliter maka kita akan menerapkan Program E20 yang idenya berangkat dari kesuksesan Program B10 hingga B50. Kita bikin etanol dengan bahan bakunya dari tebu, singkong dan jagung dengan total produksi yang diperlukan 4 juta kiloliter. Pemerintah akan menjadi off taker produksi etanol yang dihasilkan petani,” ungkap Bahlil.

Kebijakan itu dapat meningkatkan nilai tambah sektor pertanian apabila pabrik dibangun dekat dengan sentra bahan baku dan melibatkan petani melalui pola kemitraan. Namun, pengembangan skala besar juga harus memastikan pasokan untuk energi tidak mengganggu kebutuhan pangan dan industri lainnya.

Penentuan lokasi perkebunan turut menjadi perhatian. Proyek perlu mengutamakan peningkatan produktivitas lahan serta pemanfaatan lahan terdegradasi agar perluasan bahan baku bioetanol tidak memicu deforestasi maupun konflik penguasaan tanah.

Indonesia Bisa Belajar dari Brasil

Prabowo menyebut India dan Brasil sebagai contoh negara yang lebih maju dalam menggunakan etanol untuk kendaraan. Namun, pengalaman kedua negara menunjukkan keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan pabrik.

Brasil, misalnya, menaikkan kandungan etanol anhidrat dalam bensin dari 27% menjadi 30% atau E30 mulai 1 Agustus 2025. Bersamaan dengan itu, regulator Brasil menyesuaikan spesifikasi bensin dan menaikkan standar angka oktan untuk menjaga mutu bahan bakar serta melindungi konsumen.

Pengalaman tersebut memperlihatkan,penerapan E20 di Indonesia juga memerlukan penyesuaian standar kendaraan, pengujian kompatibilitas mesin, kesiapan tangki penyimpanan, jalur distribusi khusus, dan pengawasan kualitas di SPBU.

Sebelum E20 berjalan, pemerintah perlu mengumumkan peta jalan yang lebih terperinci. Hingga kini, lokasi 30 sampai 50 pabrik, kapasitas setiap fasilitas, kebutuhan investasi, sumber pembiayaan, serta jadwal konstruksinya belum dijelaskan.

Tanpa kepastian tersebut, target E20 masih berupa ambisi jangka menengah. Pembangunan puluhan pabrik baru akan berdampak terhadap ketahanan energi apabila diikuti kepastian bahan baku, harga etanol yang kompetitif, standar kendaraan, dan jaringan distribusi yang siap melayani konsumen.