Periskop.id - Praktik kekerasan seksual dan penyimpangan di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kembali menjadi sorotan tajam.
Pakar kesehatan sekaligus dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi, dr Boyke Dian Nugraha, membeberkan potret kelam mengenai kondisi para warga binaan, khususnya narapidana baru yang rentan menjadi korban kejahatan seksual oleh oknum senior.
Pernyataan menohok tersebut disampaikan oleh dr. Boyke saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi XIII DPR RI mengenai Transformasi Kebijakan dan Tata Kelola Penyelenggaraan Pemasyarakatan ini digelar di Gedung DPR RI, Jakarta, pada Kamis (4/6).
Dalam penjelasannya di hadapan para anggota dewan, dr. Boyke mengungkapkan adanya hierarki kekuasaan yang tidak sehat di dalam sel tahanan. Kondisi ini memicu terjadinya ruang eksploitasi terhadap para tahanan yang lemah.
“Jadi, di lapas itu yang saya lihat di sana memang ada yang kayak raja-raja lah atau apa orang yang punya kuasa ya yang sudah lama biasanya, dan yang baru-baru itu ya kalau dia kurang-kurang kuat dia bisa mendapatkan kekerasan seksual,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kasus-kasus penyimpangan seksual, seperti homoseksual dan tindakan sodomi paksa, bukan lagi rahasia umum di lingkungan tersebut.
“Penyimpangan seksual banyak terjadi. Kasus-kasus homoseksual tadi juga baru diceritakan, kalau ada orang ganteng laki-laki masuk jalannya sudah mulai begitu tadi dibicarakan, ya itu dia pasti sudah disodomi,” kata dr. Boyke menjelaskan.
Korban Takut Melapor dan Alami Eksploitasi Seksual Ekstrem
Lebih lanjut, dr. Boyke menyayangkan sikap abai dan ketiadaan sistem perlindungan yang aman bagi para korban kekerasan seksual di dalam lapas.
Ketika dirinya mencoba menggali informasi langsung dari para korban mengenai alasan mengapa mereka tidak melaporkan tindakan keji tersebut ke petugas, jawaban yang didapatkan justru sangat memprihatinkan.
“Kemudian kita juga harus ya mencegah tadi kekerasan eksploitasi seks. Kalau mereka itu dieksploitasi, saya tanya kamu nggak ngadu? Mau ngadu kemana? Malah dia makin hancur kalau dia ngadu,” tuturnya dengan nada prihatin.
Melihat kebuntuan tersebut, dr. Boyke mendesak agar manajemen lapas segera merumuskan sebuah sistem pengaduan yang aman dan rahasia bagi para korban demi memutus rantai eksploitasi.
“Jadi ada satu mekanisme yang harus apa dengan bilik apa dengan surat rahasia atau apa saya tidak tahu ya, karena saya juga tidak tahu mekanisme di lapas seperti apa,” ucapnya.
Tingkat keparahan eksploitasi seksual di dalam penjara ini bahkan dinilai sudah masuk ke tahap yang sangat tidak manusiawi. Ia membagikan kisah miris dari salah satu mantan narapidana yang pernah menjadi pasiennya di klinik kedokteran pribadi setelah dinyatakan bebas dari masa hukuman.
“Bayangkan seorang laki-laki yang saya pernah dapat pasien itu, sehari itu di kamar mandi mesti melayani 3-4 orang,” ungkap dr. Boyke.
Dampak Trauma Masal dan Munculnya Lingkaran Setan Predator Seksual
Dampak dari pembiaran kekerasan seksual ini dinilai sangat berbahaya bagi masa depan penegakan hukum dan psikologis masyarakat luas.
Menurut dr. Boyke, fungsi utama lembaga pemasyarakatan sebagai tempat rehabilitasi dan pembinaan narapidana akan gagal total jika lingkungan di dalamnya justru menanamkan trauma mendalam serta dendam kesumat pada diri korban.
“Jadi artinya buat apa kalau lapas itu hanya memberikan hukuman saja, tapi juga akhirnya memberikan trauma-trauma yang tidak sehat, yang kemudian justru dia (korban) akhirnya dia membalas dendam,” tegasnya.
Dampak domino yang paling mengerikan dari kasus kekerasan seksual di dalam penjara ini adalah lahirnya predator-predator baru di tengah masyarakat.
Berdasarkan data dan kajian yang dipahaminya, mayoritas korban yang pernah dipaksa menyerah pada keadaan di dalam sel berpotensi besar untuk berbalik menjadi pelaku kekerasan serupa ketika mereka sudah menghirup udara bebas.
“Makanya, mengapa para sodomi itu akhirnya mensodomi juga anak-anak kecil? Ya karena dia di penjaranya disodomi. 70-80 persen mereka yang disodomi akan mensodomi lagi ketika dia keluar dari penjara. Nah itu yang kita tidak bisa harapkan,” pungkas dr. Boyke mengakhiri pernyataannya.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar