periskop.id - Presiden Prabowo Subianto menyatakan siap menyambut segala bentuk kritik yang ditujukan kepada pemerintahannya. Ia berkomitmen menelaah setiap masukan secara cermat dan menimbangnya berdasarkan kondisi nyata yang dirasakan masyarakat.

Ia juga menegaskan posisinya sebagai kepala negara yang dipilih melalui pemilu bebas dan adil. Karena itu, menurutnya, tanggung jawab menjaga Indonesia sebagai negara demokrasi melekat pada dirinya.

Advertisement

"Saya menyambut kritik. Saya selalu membiasakan diri untuk menelaah dengan saksama setiap kritik yang ditujukan kepada pemerintah yang saya pimpin dan menimbangnya berdasarkan fakta, serta realitas yang dihadapi rakyat biasa," kata Prabowo dalam pernyataannya di Majalah The Economist, dikutip dari siaran pers Badan Komunikasi Pemerintah RI, Jumat (12/6).

Prabowo menegaskan, komitmennya terhadap demokrasi bukan sekadar pernyataan. Ia menyebutkan lebih dari 90 juta warga Indonesia telah memilihnya dalam proses pemilihan umum yang sah.

"Izinkan saya menyatakan dengan jelas: Indonesia adalah negara demokrasi, dan akan tetap menjadi demokrasi. Saya dipilih oleh lebih dari 90 juta rakyat Indonesia dalam pemilu yang bebas dan adil," tegasnya.

Di sisi lain, Prabowo menilai penerapan demokrasi perlu diselaraskan dengan nilai dan budaya setempat. Ia menguraikan, dalam tradisi Indonesia, kerja sama lebih diutamakan ketimbang fragmentasi politik, sementara kerendahan hati lebih dihargai daripada permusuhan.

"Kami percaya demokrasi harus menghasilkan stabilitas, dan kemajuan, bukan kelumpuhan," ucapnya.

Beralih ke soal ekonomi, Prabowo memaparkan pertumbuhan Indonesia selama bertahun-tahun hanya berkisar 5% per tahun. Angka tersebut dinilainya belum memadai untuk membawa Indonesia ke level negara maju, sehingga target 8% per tahun menjadi keharusan.

"Kita tidak akan sampai ke sana dengan terus melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Dalam kondisi Indonesia, puas dengan status quo berarti stagnasi. Dan itu bukan jalan yang kami pilih," tegas Prabowo.

Untuk mengejar target itu, Prabowo menyebut pemerintah tengah menjalankan transformasi di berbagai sektor. Sejumlah program dijalankan, mulai dari Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, hilirisasi industri, hingga pembentukan Danantara.

Prabowo mengakui perjalanan transformasi tidak akan berjalan sempurna. Ia merujuk pada pelajaran sejarah bahwa tidak ada perubahan nasional besar yang bebas dari hambatan.

"Perjalanan Indonesia tidak sempurna dan tidak akan sempurna. Sejarah mengajarkan, tidak ada transformasi nasional besar yang berjalan sempurna. Namun kami bertekad agar negara ini tidak lagi didefinisikan oleh keraguan, ketergantungan, atau kinerjanya yang di bawah potensi," tegasnya.

Pernyataan Prabowo tersebut dimuat dalam Majalah The Economist dan disebarluaskan melalui siaran pers resmi Badan Komunikasi Pemerintah RI pada Jumat (12/6).

"Sebagai pemerintah, kami akan menjawab kritik bukan dengan retorika, melainkan dengan hasil nyata yang dapat diukur oleh siapa pun, di mana pun," pungkas Prabowo.