Periskop.id - Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan seluruh Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memimpin dapur operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG) berstatus sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) atau abdi negara. Penegasan ini disampaikan Kepala BGN Sudaryono saat memaparkan kesiapan infrastruktur pendukung program MBG di berbagai wilayah.

Sudaryono menyebutkan, BGN telah melengkapi lebih dari 27.000 dapur yang tersebar di seluruh Indonesia. Setiap dapur aktif dipimpin oleh Kepala SPPG yang berstatus PPPK.

"Dan dalam pemenuhan makan bergizi gratis ini kami telah di-equipped sejumlah 27.000 sekian dapur, yang di dalam dapur yang aktif itu ada Kepala SPPG, yang adalah statusnya adalah sebagai P3K, sehingga status Kepala Dapur adalah Abdi Negara. Saya ulangi, status Kepala Dapur di setiap dapur adalah Abdi Negara," kata Sudaryono di Kantor BGN, Senin (27/7).

Penempatan abdi negara sebagai pimpinan di tiap unit dapur menjadi langkah krusial, menurut Sudaryono. Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh operasional berjalan secara akuntabel dan profesional.

"Sehingga penting bagi kami memastikan Abdi Negara di setiap dapur itu kemudian bekerja dengan sebaik-baiknya, sebersih-bersihnya, dan memastikan menu yang tersaji itu adalah baik," jelas dia.

Seluruh Kepala SPPG bertanggung jawab langsung kepada lembaga pemerintah yang dipimpinnya, tegas Sudaryono. Dengan begitu, kualitas gizi serta higienitas menu makanan dijamin secara resmi oleh negara.

"Karena Kepala SPPG adalah pegawai kami, Abdi Negara di bawah Badan Gizi Nasional," ungkap Sudaryono.

Di luar soal tata kelola dan status kepegawaian, Sudaryono menekankan tantangan utama BGN ke depan adalah menjaga esensi program tersebut. Ketercukupan nilai gizi bagi penerima manfaat disebutnya sebagai tolok ukur utama keberhasilan MBG.

"Yang menjadi tantangan kami adalah bagaimana kita memastikan bahwa tata kelola yang baik dalam penyelenggaraan makan bergizi gratis, sekali lagi ini namanya makan bergizi gratis, bukan makan enak gratis, bukan makan banyak gratis, ya, ini makan bergizi gratis, mencukupan gizinyalah yang menjadi tolak ukurnya," pungkas Sudaryono.