periskop.id - FIFA resmi melarang penonton membawa botol minum ke dalam stadion selama Piala Dunia 2026. Keputusan ini tertuang dalam pemberitahuan terbaru kepada pemegang tiket, dengan alasan mencegah risiko pelemparan yang dapat mencederai pemain maupun suporter lain.

Kebijakan tersebut membalikkan sikap awal FIFA yang sebelumnya memperbolehkan penonton membawa botol plastik. Izin itu bahkan sudah diterapkan dalam Piala Dunia Antarklub 2025, yang difungsikan sebagai ajang uji coba resmi menjelang turnamen utama.

Advertisement

“Ini risiko kesehatan yang nyata. Di Eropa, kita melihat makin banyak orang ambruk di tribun karena serangan panas. Ini persoalan matematika sederhana: makin rumit akses ke air, makin terancam pula orang kena serangan panas dan dehidrasi,” ujar Direktur Eksekutif Football Supporters Europe, Ronan Evain, kepada The Guardian.

Evain menilai larangan tersebut bukan sekadar soal keamanan, melainkan cermin dari skala prioritas FIFA yang dinilainya bermasalah. Membatasi akses air di tengah cuaca ekstrem, menurutnya, sama saja dengan menempatkan pendapatan di atas keselamatan penonton.

FIFA berdalih pelarangan botol minum sebenarnya sudah berlaku di sejumlah stadion, dan mereka hanya menyeragamkan aturan tersebut ke semua venue. Namun, argumen itu dinilai janggal. Selama ajang berlangsung, FIFA secara efektif mengambil alih kendali operasional stadion, termasuk kewenangan menetapkan aturan di dalamnya.

Perubahan kebijakan ini juga memicu perdebatan di internal FIFA. New York Times mengutip sumber dalam organisasi tersebut yang menyebut keputusan soal botol amat dipengaruhi oleh kepentingan sponsor.

Salah satu sponsor terbesar Piala Dunia 2026 adalah Coca-Cola, perusahaan yang juga memasarkan produk air kemasan bermerek Dasani. Keterlibatan nama besar ini mempertebal nuansa konflik kepentingan di balik kebijakan pelarangan.

Coca-Cola membantah campur tangan dalam keputusan tersebut. Meski begitu, bantahan itu dinilai tidak cukup untuk menghilangkan pertanyaan publik soal siapa yang sesungguhnya mendikte aturan di dalam stadion.

Piala Dunia 2026 akan digelar di tiga negara tuan rumah, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, pada musim panas. Ancaman suhu tinggi selama pertandingan menjadikan akses terhadap air minum bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan kebutuhan mendasar bagi jutaan penonton.

“Ini menunjukkan bahwa sekali lagi, prioritasnya adalah menggenjot pendapatan. Betapa amoralnya mengambil keuntungan dari air di situasi ini, ketika kesehatan orang-orang dalam ancaman. Ini mengerikan bagi saya,” pungkas Evain.