Periskop.id - Jumlah tenaga kerja BYD turun menjadi 870.000 orang pada 2025, berkurang sekitar 100.000 orang atau sekitar 10%. Perusahaan menyebut penurunan ini disebabkan restrukturisasi, peningkatan efisiensi operasional, dan langkah pengelolaan biaya, sebagai tahap berikutnya dalam persaingan kendaraan listrik.
Laman Carnewschina, Selasa (31/3) waktu setempat, menyebut BYD melaporkan pendapatan sebesar 803,96 miliar yuan (Rp1,9 kuadriliun) pada 2025, dengan total pengiriman kendaraan mencapai 4,60 juta unit. Pengiriman ke luar negeri sendii mencapai sekitar 1,05 juta unit, menandai pertama kalinya perusahaan melampaui angka 1 juta unit ekspor.
Laba bersih tercatat sebesar 32,62 miliar yuan (Rp80,3 triliun), turun sekitar 19% secara tahunan. Penurunan ini disebabkan tekanan harga di pasar kendaraan energi baru domestik, serta investasi berkelanjutan dalam teknologi kendaraan dan baterai.
BYD mempertahankan belanja riset dan pengembangan sebesar 63,4 miliar yuan (Rp156,3 triliun). Hal ini mencerminkan pengembangan berkelanjutan di bidang elektrifikasi, sistem baterai, dan infrastruktur pengisian daya meski margin tertekan.
Pengisian Daya
BYD sejauh ini terus memperluas pasar internasional dengan lini kendaraan yang lebih luas dan volume ekspor yang meningkat. Perusahaan meluncurkan Blade Battery 2.0 dengan Flash Charging 2.0 pada 5 Maret 2026.
Sistem ini memungkinkan pengisian daya yang diklaim dari 10% ke 70% hanya sekitar 5 menit dan dari 10% ke 97% dalam 9 menit dalam kondisi standar. Peluncuran infrastruktur pengisian cepat ini sejalan dengan kenaikan target ekspor BYD pada 2026 menjadi 1,5 juta kendaraan, naik 15% dari target sebelumnya.
Target yang lebih tinggi ini mencerminkan fokus perusahaan pada pasar luar negeri, demi mendukung pertumbuhan di tengah persaingan domestik. Sementara itu, penjualan kendaraan energi baru domestik turun 41% pada Februari 2026, terutama karena faktor musiman terkait libur di Tiongkok.
Penurunan ini terjadi sebelum peluncuran Blade Battery 2.0, yang menunjukkan fluktuasi permintaan jangka pendek, bukan perubahan struktural dalam permintaan produk.
Ekspansi infrastruktur pengisian daya dan teknologi baterai baru, diharapkan dapat mendukung permintaan yang lebih stabil dalam beberapa bulan ke depan.
Adapun hasil kinerja BYD pada 2025 mencerminkan kombinasi pengurangan tenaga kerja, pertumbuhan pendapatan, dan investasi teknologi yang berkelanjutan. Posisinya di antara 10 besar produsen otomotif global serta peluncuran sistem baterai generasi terbaru, bersama target ekspor yang lebih tinggi, menunjukkan penyesuaian simultan pada struktur biaya dan ekspansi internasional.
Tinggalkan Komentar
Komentar