Periskop.id - Platform perjalanan digital global, Agoda, resmi merilis hasil Sustainable Travel Survey 2026 yang mengungkap adanya pergeseran signifikan dalam preferensi wisatawan di kawasan Asia.
Tren perjalanan saat ini tidak lagi hanya berfokus pada rekreasi semata, namun mulai beralih pada pengalaman yang lebih bermakna, ramah lingkungan, serta memberikan manfaat langsung bagi masyarakat di destinasi tujuan.
Data survei tersebut menunjukkan bahwa sebanyak 35% wisatawan di Asia kini lebih memprioritaskan tur dan aktivitas yang memiliki misi melindungi lingkungan serta mendukung komunitas lokal.
Angka ini secara mengejutkan melampaui 26% responden yang hanya fokus pada pencarian akomodasi dengan sertifikasi keberlanjutan saja.
Kesadaran Keberlanjutan yang Terus Meningkat
Perhatian terhadap aspek keberlanjutan bukan lagi menjadi isu sampingan dalam perencanaan perjalanan.
Agoda mencatat bahwa pada 2026, sebanyak 77% wisatawan Asia menganggap faktor keberlanjutan sebagai hal penting dalam perjalanan mereka. Jumlah tersebut mengalami kenaikan yang cukup stabil dari angka 68% pada tahun sebelumnya.
Thailand tercatat sebagai negara dengan tingkat perhatian tertinggi, di mana 95% pelancongnya memprioritaskan keberlanjutan.
Indonesia berada di posisi kedua dengan tingkat antusiasme sebesar 93%, diikuti oleh India dan Malaysia masing-masing sebesar 88%, serta Taiwan dengan 83%.
Menariknya, 83% responden meyakini bahwa isu ini akan tetap menjadi faktor penentu dalam tiga tahun ke depan. Temuan ini mengindikasikan bahwa wisata berkelanjutan telah berevolusi dari sekadar tren sesaat menjadi perilaku utama para pelancong di Asia.
Mendorong Konsep Slow Travel dan Destinasi Sekunder
Dalam ajang GSTC Sustainable Tourism Conference di Phuket, Agoda menyoroti pentingnya peran slow travel atau perjalanan lambat dalam mendukung pertumbuhan pariwisata yang lebih seimbang. Konsep ini mengajak wisatawan untuk tinggal lebih lama di satu tempat dan mengeksplorasi destinasi sekunder yang selama ini kurang terjamah.
Strategi ini bertujuan agar manfaat ekonomi dari sektor pariwisata dapat tersebar lebih merata ke wilayah-wilayah kecil, sehingga tidak hanya terpusat pada destinasi populer yang sering kali sudah mengalami kelebihan beban wisatawan (overtourism).
Dampak lokal dan koneksi dengan masyarakat setempat menjadi motivasi utama bagi para pelancong. Sekitar 29% responden memprioritaskan perjalanan yang memastikan pengeluaran mereka berdampak positif bagi ekonomi lokal, sementara 28% lainnya menginginkan pengalaman budaya yang lebih dalam dan autentik.
Kesadaran Ekonomi dan Perubahan Perilaku
Wisatawan saat ini semakin sadar akan kekuatan ekonomi dari setiap pilihan mereka. Tercatat sebanyak 38% responden menilai bahwa pariwisata yang bertanggung jawab memberikan kontribusi paling besar bagi pertumbuhan bisnis lokal.
Hal ini juga tercermin dari perubahan perilaku di lapangan. Sebanyak 48% responden mengaku lebih memilih bepergian pada musim sepi atau off peak season demi mengurangi kepadatan. Tindakan ini menjadi bentuk kontribusi nyata wisatawan terhadap upaya keberlanjutan di destinasi tujuan.
Senior Vice President, Supply Agoda, Andrew Smith, menekankan adanya pergeseran keinginan wisatawan untuk berkontribusi lebih selama perjalanan mereka.
"Para pelancong mencari keterlibatan yang lebih bermakna di destinasi yang mereka kunjungi, mencari cara untuk berkontribusi pada pertumbuhan lokal dan pelestarian alam sebagai bagian dari perjalanan mereka," ujar Smith sebagaimana dikutip oleh ET Travel World pada Senin (11/5).
Andrew juga menambahkan bahwa tren penjelajahan ke wilayah wilayah baru akan membuka keran ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat setempat.
"Seiring para pelancong menjelajah di luar jalur masuk utama, peluang bagi komunitas di destinasi sekunder untuk mendapatkan manfaat dari penyebaran pendapatan pariwisata yang lebih luas terus meningkat," jelasnya.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar