periskop.id - Bank Mandiri menyambut keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50%. Penyesuaian bunga simpanan dan kredit perseroan akan mempertimbangkan kondisi pasar, dinamika likuiditas, serta pengelolaan risiko yang prudent.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini menerangkan, terlepas dari arah pergerakan bunga acuan, perbankan tetap punya peran penting menjaga kelancaran ekonomi melalui fungsi intermediasi dan layanan transaksi yang andal.
"Sejalan dengan hal tersebut, Bank Mandiri akan terus memperkuat strategi ekosistem value chain serta meningkatkan kapabilitas digital untuk mendukung kebutuhan masyarakat luas dan aktivitas usaha secara berkelanjutan," kata Novita dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (10/6).
Novita juga mengungkapkan optimisme perseroan dalam menyokong kebutuhan pembiayaan pelaku usaha, UMKM, dan masyarakat ke depan. Ia menyebut peran Bank Mandiri sebagai agent of development sejalan dengan upaya mendorong penciptaan nilai tambah di berbagai sektor ekonomi.
Kenaikan BI-Rate sendiri diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan Bank Indonesia pada Selasa (9/6). BI mengerek suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps), dari 5,25% menjadi 5,50%.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, pelemahan nilai tukar rupiah telah melampaui proyeksi bank sentral. Kondisi itu menjadi pertimbangan utama di balik keputusan RDG menaikkan BI-Rate.
Bersamaan dengan itu, suku bunga deposit facility dan lending facility juga disesuaikan masing-masing 25 bps menjadi 4,50% dan 6,25%. BI turut mengumumkan serangkaian langkah penguatan stabilisasi rupiah, yakni kenaikan struktur suku bunga SRBI untuk seluruh tenor, insentif penurunan tingkat swap lindung nilai bagi investor asing, pembukaan kembali window lelang instrumen repo bagi perbankan, serta peningkatan intensitas operasi moneter rupiah maupun valuta asing.
Bank Mandiri menilai langkah BI tersebut mencerminkan ketegasan bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal, termasuk eskalasi di Timur Tengah dan derasnya arus keluar investasi portofolio asing.
Kenaikan RDG Mingguan ini merupakan lanjutan dari langkah sebelumnya pada RDG Bulanan 19-20 Mei 2026, saat BI menaikkan BI-Rate sebesar 50 bps. Penyesuaian Mei itu menjadi yang pertama setelah bunga acuan ditahan di level 4,75% sejak September 2025. Sepanjang 2025, BI sempat memangkas suku bunga acuan lima kali dengan total penurunan 125 bps. RDG Bulanan berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 17-18 Juni 2026.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada Rabu (10/6) menguat ke Rp17.971 per dolar AS, dari posisi Rp18.141 per dolar AS pada Selasa (9/6). "Stabilitas yang terjaga merupakan fondasi penting bagi keberlanjutan aktivitas ekonomi, kepercayaan pelaku usaha dan masyarakat, serta penciptaan ruang pertumbuhan yang sehat dalam jangka panjang," pungkas Novita.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar