periskop.id - Saham PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT) menunjukkan kinerja tangguh pada awal 2026 dengan mencatatkan pendapatan tertinggi sepanjang sejarah perusahaan, yakni Rp15,2 triliun atau tumbuh 12% secara tahunan.

Pencapaian ini didorong oleh keberhasilan strategi hiper-personalisasi berbasis kecerdasan buatan (AI), yang mampu meningkatkan kualitas monetisasi di tengah sedikit penurunan jumlah pelanggan prabayar akibat konsolidasi kartu SIM.

Dalam riset terbarunya, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp3.000, seiring valuasi yang dinilai masih menarik serta potensi pertumbuhan dari lini bisnis baru seperti GPU-as-a-Service(GPUaaS), yang telah menyumbang pendapatan sebesar US$16 juta pada kuartal I-2026.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan, menyoroti capaian Average Revenue Per User(ARPU) yang mencapai level tertinggi di Rp45,2 ribu. Menurut mereka, peningkatan ini bukan berasal dari kenaikan harga secara agresif, melainkan dari strategi yang lebih efektif.

“Kami melihat hal ini didorong oleh peningkatan bauran pelanggan (customer mix upgrade) serta monetisasi dan bundling layanan berbasis AI, bukan melalui kenaikan harga secara luas,” tulis tim analis dalam risetnya, Selasa (5/4).

Kinerja tersebut juga ditopang oleh lonjakan trafik data sebesar 25,1% yang mencerminkan meningkatnya keterlibatan pengguna terhadap layanan digital perseroan.

Senada, analis Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga, menilai kinerja ISAT masih solid dan sejalan dengan ekspektasi pasar. Segmen Multimedia, Data, dan Internet (MIDI) menjadi salah satu pendorong utama dengan pertumbuhan 17,5% secara tahunan, mencerminkan tingginya permintaan konektivitas digital dari sektor korporasi.

“Ke depan, risiko utama terhadap prospek kami meliputi potensi kembalinya persaingan yang agresif, realisasi ARPU yang lebih lemah dari ekspektasi, serta ketidakpastian regulasi di sektor telekomunikasi,” jelas Aditya.

Dari sisi profitabilitas, ISAT membukukan laba bersih sebesar Rp1,5 triliun atau tumbuh 26% secara tahunan. Meski demikian, perusahaan mencatat adanya tekanan pada biaya operasional, terutama beban karyawan yang meningkat 51,9% akibat pemberian insentif berbasis kinerja.

President Director dan CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, menyatakan bahwa konsistensi strategi dalam menghadirkan nilai tambah bagi pelanggan menjadi kunci utama pertumbuhan perusahaan.

“Hiper-personalisasi AI memungkinkan kami menjadi lebih relevan dalam setiap interaksi. Hal ini tercermin dalam keterlibatan pelanggan yang lebih kuat, pengalaman yang semakin baik, serta pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Ke depan, Indosat berencana memperkuat infrastruktur digital melalui inisiatif FiberCo yang ditargetkan rampung pada kuartal III-2026. Proyek ini diperkirakan dapat menghasilkan dana bersih sekitar US$560 juta.