Periskop.id - Polda Metro Jaya mengamankan dua pria yang diduga membawa bom molotov saat aksi mahasiswa berlangsung di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat, Jumat. Polisi menyebut keduanya bukan bagian dari kelompok mahasiswa dan diduga hendak menyusup ke tengah massa aksi.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto mengatakan, secara umum penyampaian pendapat oleh sekitar 1.000 mahasiswa di kawasan Dukuh Atas masih berlangsung aman, tertib, dan dapat dikendalikan hingga Jumat (12/6) sore.
"Alhamdulillah proses perjalanan penyampaian pendapat masih berlangsung, situasi masih aman dan dapat dikendalikan," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto.
Budi mengatakan Polda Metro Jaya bersama TNI berkomitmen menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat agar aspirasi mahasiswa tetap dapat tersampaikan. Ia menyebut pola pengamanan dilakukan secara persuasif dan humanis sesuai arahan Kapolda Metro Jaya.
"Pengamanan dilakukan secara persuasif dan humanis sesuai arahan Kapolda Metro Jaya," ucapnya.
Namun, di tengah aksi tersebut, Satuan Tugas Penegakan Hukum atau Satgas Gakkum Ditreskrimum Polda Metro Jaya mengamankan dua pria di sekitar wilayah Bendungan Hilir. Keduanya diamankan sekitar pukul 15.30 WIB dengan barang bukti berupa bom molotov.
Polisi menduga kedua pria itu hendak bergabung ke tengah massa mahasiswa.
Namun, berdasarkan pemeriksaan awal, keduanya disebut bukan bagian dari kelompok mahasiswa yang menggelar aksi. "Kami sudah mengidentifikasi beberapa kelompok orang yang akan bergabung dengan aksi mahasiswa dan ini membawa molotov. Dua orang sudah diamankan dan saat ini dibawa ke Direktorat Reserse Kriminal Umum untuk dilakukan pemeriksaan dan interogasi mendalam," kata Budi.
Budi mengatakan, status dan afiliasi kedua pria tersebut masih didalami penyidik. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui motif, asal barang bukti, kemungkinan keterlibatan pihak lain, serta apakah keduanya memang memiliki rencana melakukan tindakan yang dapat mengganggu jalannya aksi.
Temuan molotov ini menjadi perhatian karena aksi mahasiswa yang berlangsung di sekitar Dukuh Atas dan koridor Sudirman-Thamrin berada di kawasan padat aktivitas publik. Area tersebut tidak hanya dilalui massa aksi, tetapi juga pekerja, komuter, pengguna transportasi publik, pengendara, serta warga yang beraktivitas di pusat Jakarta.
Polda Metro Jaya menegaskan pengamanan dilakukan agar penyampaian aspirasi tidak terganggu oleh pihak-pihak yang berpotensi memicu kekacauan. Polisi juga menyebut pengamanan bukan untuk menghalangi mahasiswa menyampaikan pendapat, melainkan menjaga agar aksi tetap berlangsung tertib dan tidak disusupi kelompok yang membawa benda berbahaya.
Pendekatan Humanis
Sebelumnya, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Asep Edi Suheri telah menekankan agar personel pengamanan mengedepankan pendekatan humanis dalam menghadapi aksi mahasiswa. Aparat diminta menjaga sikap, tidak mudah terpancing, dan tetap memastikan hak menyampaikan pendapat berjalan sesuai aturan.
Aksi mahasiswa di kawasan pusat Jakarta juga berdampak pada mobilitas publik. Kepadatan di sekitar Bundaran HI dan Dukuh Atas membuat MRT Jakarta melakukan penyesuaian akses stasiun. Akses yang ditutup sementara meliputi Entrance C dan E Stasiun Dukuh Atas BNI serta Entrance A Stasiun Bundaran HI Bank Jakarta.
Meski demikian, MRT Jakarta memastikan layanan perjalanan tetap beroperasi normal. Pelanggan masih dapat menggunakan akses masuk dan keluar stasiun lainnya serta mengikuti arahan petugas di lapangan.
Situasi ini menunjukkan bahwa aksi di titik strategis seperti Dukuh Atas dan Bundaran HI tidak hanya berkaitan dengan keamanan massa, tetapi juga kelancaran transportasi publik. Dukuh Atas merupakan salah satu kawasan integrasi transportasi penting di Jakarta karena terhubung dengan MRT, Transjakarta, KRL, dan jalur pejalan kaki.
Polda Metro Jaya sebelumnya juga menjelaskan alasan sterilisasi kawasan Bundaran HI dari aktivitas unjuk rasa. Polisi menilai Bundaran HI berada di poros Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan M.H. Thamrin yang menjadi jalur utama pergerakan kendaraan di Ibu Kota. Konsentrasi massa di titik itu dinilai berisiko memicu kemacetan besar dan berdampak ke jalan arteri sekitarnya.
Selain menjadi simpul lalu lintas, Bundaran HI juga merupakan kawasan objek vital ekonomi, pusat perhotelan internasional, dan area bisnis. Karena itu, kepolisian mengarahkan massa ke lokasi alternatif resmi agar penyampaian aspirasi tetap berlangsung tanpa melumpuhkan mobilitas pusat kota.
Tiga lokasi alternatif yang disiapkan pemerintah dan kepolisian adalah Silang Selatan Monas, Parkir Timur Senayan, dan Alun-Alun Demokrasi DPR/MPR RI. Lokasi tersebut dinilai lebih mampu menampung massa dalam jumlah besar tanpa mengganggu jalur utama transportasi dan aktivitas ekonomi Jakarta.
Dalam konteks hukum, penyampaian pendapat di muka umum dijamin oleh undang-undang. Namun, peserta aksi juga memiliki kewajiban menjaga ketertiban umum, menghormati hak orang lain, dan tidak membawa benda yang dapat membahayakan keselamatan publik.
Karena itu, temuan molotov dalam aksi mahasiswa menjadi alarm bagi aparat dan peserta aksi. Di satu sisi, mahasiswa tetap memiliki hak untuk menyampaikan aspirasi. Di sisi lain, keberadaan pihak luar yang membawa benda berbahaya dapat merusak substansi aksi dan membuka risiko bentrokan di lapangan.
Pengacakan Sinyal
Polda Metro Jaya juga menanggapi keluhan terkait gangguan sinyal internet dan kabar CCTV mati di sekitar lokasi aksi. Budi membantah adanya tindakan pengacakan sinyal atau jamming oleh aparat.
"Jamming di lapangan tidak ada. Karena memang karena kepadatan anggota termasuk seluruh masyarakat, aktivitas beberapa memang sinyal kita pun rata-rata sudah susah. Nah, kami juga akan komunikasikan dengan Diskominfo Provinsi DKI terkait tentang CCTV," ucap Budi.
Menurut Budi, gangguan sinyal lebih mungkin terjadi karena kepadatan orang di lapangan. Sementara terkait CCTV, kepolisian akan berkomunikasi dengan Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi DKI Jakarta untuk memastikan kondisi perangkat pemantauan di sekitar lokasi.
Hingga Jumat sore, polisi menyatakan situasi aksi mahasiswa di Dukuh Atas masih aman dan terkendali. Namun, pengamanan tetap diperketat untuk mencegah penyusupan pihak yang tidak bertanggung jawab serta menjaga agar aksi tidak bergeser menjadi kericuhan.
Dengan diamankannya dua pria pembawa molotov, Polda Metro Jaya menegaskan proses penyelidikan masih berjalan. Polisi belum membuka lebih jauh identitas, jaringan, atau motif keduanya karena pemeriksaan masih dilakukan oleh Direktorat Reserse Kriminal Umum.
Peristiwa ini memperlihatkan pentingnya kewaspadaan dalam setiap aksi massa. Aspirasi publik dapat disampaikan secara damai, tetapi potensi penyusupan dan provokasi tetap harus dicegah agar demonstrasi tidak merugikan peserta aksi, masyarakat umum, maupun fasilitas publik.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar