periskop.id — Sebuah perusahaan rintisan atau startup bernama Paterna Biosciences mengklaim mampu menumbuhkan sperma manusia fungsional di laboratorium.
CEO dan salah satu pendiri Paterna Biosciences, Alexander Pastuszak, mengungkapkan temuan ini dapat digunakan untuk membantu pria dengan jenis infertilitas tertentu agar bisa memiliki anak kandung.
"Kami telah menemukan instruksi yang diperlukan untuk mengajari sel punca ini agar menjadi sperma yang matang dan normal," ujarnya seperti dikutip dari Wired, Kamis (23/4).
Temuan ini merupakan langkah signifikan bagi startup yang berbasis di Utah, Amerika Serikat tersebut. Namun, hasil penelitian belum dipublikasikan dalam jurnal ilmiah yang ditinjau rekan sejawat atau diverifikasi secara independen.
Pastuszak menjelaskan, proses produksi melibatkan isolasi sel punca pembentuk sperma dari jaringan testis. Sel-sel tersebut kemudian dipicu menjadi sperma matang di dalam cawan laboratorium.
Tim Paterna menggunakan biologi komputasi untuk memprediksi sinyal molekuler penting pada setiap langkah pembuatan sperma.
Mereka menguji berbagai kombinasi molekul hingga menemukan metode tepat untuk menginduksi setiap tahap perkembangan sel.
Teknologi tersebut menargetkan sekitar 10 hingga 15 persen pria infertil yang tidak memiliki sperma sama sekali dalam ejakulatnya. Selama ini, kelompok tersebut memiliki sedikit pilihan untuk memiliki anak kandung.
Pastuszak menjelaskan pengujian awal menunjukkan sperma buatan laboratorium terlihat secara efektif identik dengan sperma alami. Namun, prosedur ini belum siap digunakan untuk memulai kehamilan saat ini.
Paterna berencana melakukan studi lebih besar melibatkan pria dengan infertilitas. Mereka akan membandingkan tingkat keberhasilan pembuahan antara sperma yang diekstraksi dan sperma buatan laboratorium.
"Itu akan memberi tahu kami banyak hal mengenai kemanjuran dan keamanan pendekatan ini," ujarnya.
Ia menambahkan, pengujian tersebut akan menunjukkan jika terdapat mutasi yang diciptakan oleh proses in vitro.
“Uji coba sperma buatan untuk memulai kehamilan dapat dimulai paling cepat tahun depan,” kata Pastuszak.
Saat ini, pria yang tidak memproduksi sperma harus menjalani operasi pengambilan sperma di jaringan testis yang memerlukan anestesi umum. Prosedur tersebut sering kali tidak memberikan hasil pasti.
Teknologi Paterna dirancang menggantikan proses bedah tersebut dengan biopsi jaringan kecil. Perusahaan berencana mematok biaya antara 5.000 hingga 12.000 dolar AS untuk prosedur ini.
Untuk diketahui, upaya memproduksi sperma di luar tubuh, atau spermatogenesis in vitro, sudah dilakukan ilmuwan selama hampir satu abad.
Sebelumnya, tim asal Jepang berhasil memproduksi sperma tikus yang layak pada tahun 2011, namun sperma manusia terbukti lebih sulit diciptakan.
Perusahaan bioteknologi lain, Kallistem asal Prancis, sempat mengklaim capaian serupa pada 2015.
Meski begitu, peneliti independen mempertanyakan perkembangan sperma tersebut dan perusahaan gagal membuktikan kemampuan pembuahan sel telur.
Tinggalkan Komentar
Komentar