Periskop.id - Kebiasaan memesan es teh manis atau teh hangat saat menyantap hidangan berbahan dasar daging, seperti sate, rendang, atau bakso, sudah menjadi tradisi kuliner yang melekat kuat di masyarakat Indonesia. 

Namun, sebuah laporan ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal Critical Reviews in Food Science and Nutrition pada tahun 2000 melalui artikel berjudul "Effect of tea and other dietary factors on iron absorption" memberikan peringatan keras. Kebiasaan mencampur kedua hidangan ini ternyata dapat menggagalkan manfaat gizi utama dari daging yang kita konsumsi.

Advertisement

Riset tersebut memaparkan bahwa daging, ikan, dan unggas sebenarnya adalah sumber makanan yang sangat luar biasa untuk mendongkrak nutrisi zat besi di dalam tubuh. 

Daging bekerja dengan dua cara utama, yaitu merangsang penyerapan zat besi dari sumber lain (non-heme) sekaligus menyediakan zat besi heme, yaitu bentuk zat besi dari hewan yang sangat mudah diserap oleh tubuh manusia.

Bahkan, menambahkan sedikitnya 75 gram daging ke dalam menu makanan terbukti mampu mendongkrak penyerapan zat besi hingga 2,5 kali lipat. Sayangnya, semua manfaat investasi gizi yang mahal ini bisa langsung sirna seketika saat Anda meminum secangkir teh di waktu yang bersamaan.

Mengapa Teh Menjadi "Musuh" bagi Zat Besi Daging?

Alasan utama di balik larangan ini terletak pada kandungan alami teh yang disebut dengan tea flavonoids atau senyawa polifenol. Di dalam senyawa fenolik tersebut, terdapat sebuah bagian kimiawi spesifik yang bernama gugus galoil. Gugus galoil ini memiliki sifat layaknya magnet yang sangat kuat dalam mengikat zat besi di dalam saluran pencernaan kita.

Ketika Anda makan daging lalu menyelinginya dengan minum teh, senyawa flavonoid dari teh akan langsung menyergap dan mengikat zat besi dari daging tersebut. Ikatan ini membentuk sebuah senyawa kompleks baru yang sifatnya mengunci zat besi. 

Akibatnya, zat besi dari daging yang seharusnya diserap oleh dinding usus untuk dialirkan ke darah justru menjadi "beku," tidak dapat larut, dan akhirnya terbuang sia-sia dari tubuh tanpa sempat memberikan manfaat.

Efek sabotase nutrisi ini tidak bisa dianggap remeh. Berdasarkan berbagai studi intervensi pada manusia yang dirangkum dalam riset tersebut, konsumsi teh bersamaan dengan makanan terbukti mampu memangkas dan menghambat penyerapan zat besi secara drastis, yaitu antara 63% hingga 91%.

Kepekatan Teh Bukan Penentu, Kuncinya Ada pada Waktu

Banyak orang awam mengira efek buruk ini hanya terjadi jika mereka meminum teh yang kental atau pahit. Namun, riset ini justru mematahkan anggapan tersebut. 

Berdasarkan hasil pengujian berbagai konsentrasi teh, mulai dari yang mengandung 40 mg hingga 420 mg flavonoid per cangkir, para ahli menemukan tidak ada perbedaan signifikan dalam tingkat hambatan penyerapan zat besi di antara konsentrasi tersebut.

Dengan kata lain, mau Anda minum teh yang encer, normal, maupun teh yang sangat pekat, penyerapan zat besi dari makanan Anda akan tetap merosot tajam sekitar 60 hingga 70 persen jika diminum secara bersamaan.

Dampak dari kebiasaan buruk ini terbukti nyata dalam beberapa studi kasus pada kelompok masyarakat dengan asupan makanan terbatas. 

Para peneliti menemukan bahwa individu yang memiliki cadangan zat besi rendah atau menderita anemia rata-rata mengonsumsi teh dalam jumlah lebih tinggi saat jam makan, yaitu mencapai 563 ml per hari, dibandingkan mereka yang memiliki kadar zat besi normal.

Strategi Cerdas Menikmati Teh Tanpa Mengorbankan Daging

Bagi Anda yang menyukai teh, riset ini tidak melarang Anda untuk tetap minum teh sepenuhnya, melainkan hanya meminta agar waktu konsumsinya diatur ulang. Solusi terbaik yang disarankan para ahli adalah memindahkan waktu minum teh ke sela-sela waktu makan, sehingga terdapat jeda setelah menyantap makanan.

Studi menunjukkan bahwa jika teh dikonsumsi secara terpisah atau di antara waktu makan, efek penghambatannya akan langsung melemah secara signifikan menjadi hanya sekitar 20% saja. 

Sebagai alternatif pendamping saat sedang menyantap daging, Anda sangat disarankan untuk memilih air putih atau minuman yang kaya akan asam askorbat (Vitamin C), seperti jus buah. 

Vitamin C dikenal sebagai sekutu terbaik zat besi karena memiliki kemampuan luar biasa untuk melawan efek buruk zat penghambat dan melipatgandakan penyerapan zat besi di dalam tubuh.