Periskop.id - Tidak semua luka dalam hubungan terlihat jelas. Bahkan, tidak semua orang yang mengalaminya bisa langsung pergi dari hubungan toxic.
Sering kali, mereka justru bertahan. Bukan karena lemah, tapi karena terjebak dalam situasi yang jauh lebih kompleks dari yang terlihat.
Di titik ini, kehadiran orang terdekat bisa jadi sangat berarti. Kita mungkin ingin menyelamatkan, tapi yang paling dibutuhkan sering kali adalah ditemani dan dikuatkan hingga mereka bisa membuat keputusan rasional dengan kesadaran penuh.
Lalu, apa yang sebenarnya bisa kita lakukan saat melihat orang yang kita sayangi berada dalam hubungan yang tidak sehat?
Mulai dari Mendengar, Bukan Menghakimi

Banyak orang dengan niat baik justru memulai dari pertanyaan yang terdengar sederhana, seperti “Kenapa sih kamu masih bertahan?” atau “Udah jelas dia jahat.”
Tanpa disadari, kalimat seperti ini bisa membuat korban merasa disalahkan dan semakin menutup diri.
Dalam banyak kasus, korban kekerasan dalam hubungan mengalami kebingungan emosional akibat manipulasi yang terus-menerus. Mereka bisa meragukan perasaan dan penilaiannya sendiri, sehingga sulit membedakan mana yang sehat dan mana yang tidak.
Dalam psikologi, kondisi ini merupakan efek dari gaslighting, di mana seseorang dibuat merasa bahwa apa yang ia rasakan tidak valid. Karena itu, pendekatan yang menghakimi justru memperkuat rasa tidak aman yang sudah ada.
Memulai dari mendengar tanpa menyela dan tanpa menghakimi, adalah langkah paling sederhana sekaligus paling penting. Kehadiran yang tenang sering kali lebih berarti daripada nasihat yang panjang.
Jangan Memaksa Mereka Langsung Pergi
Bagi orang luar, keputusan untuk pergi mungkin terlihat mudah. Namun bagi korban, langkah itu bisa terasa sangat menakutkan dan penuh risiko. Ada banyak pertimbangan yang tidak selalu terlihat dari luar.
Salah satu faktor yang membuat korban sulit pergi adalah trauma bonding, yaitu keterikatan emosional yang terbentuk dari siklus kekerasan dan perhatian yang datang bergantian. Hal ini membuat korban tetap berharap pasangan akan berubah.
Selain itu, ada banyak hal yang menahan seseorang untuk tetap bertahan. Mulai dari ketergantungan emosional, rasa takut kehilangan, hingga kekhawatiran akan apa yang terjadi setelah hubungan itu benar-benar berakhir.
Data Komnas Perempuan dalam CATAHU 2023 menunjukkan bahwa alasan-alasan ini sering menjadi penghambat utama bagi korban untuk keluar dari hubungan yang tidak sehat atau toxic.
Memaksa mereka untuk segera pergi justru bisa membuat mereka menjauh dari kita. Dalam beberapa kasus, mereka bahkan kembali ke pelaku tanpa memiliki dukungan yang cukup.
Bantu Mereka Melihat Realita Secara Perlahan
Alih-alih memberi ultimatum, pendekatan yang lebih efektif adalah membantu mereka melihat situasi secara perlahan. Proses ini membutuhkan kesabaran dan empati yang konsisten.
Bisa mulai dengan pertanyaan reflektif yang tidak menghakimi, seperti “Kamu merasa bahagia nggak akhir-akhir ini?” atau “Menurut kamu, itu wajar nggak diperlakukan seperti itu?”
Pertanyaan seperti ini membantu membuka ruang berpikir tanpa membuat mereka merasa diserang. Perlahan, mereka bisa mulai menyadari sendiri kondisi yang sedang mereka alami.
Dalam psikologi, proses ini dikenal sebagai restoring agency. Yakni mengembalikan kemampuan seseorang untuk memahami situasi dan mengambil keputusan atas hidupnya sendiri.
Tawarkan Bantuan Nyata, Bukan Sekadar Kata-kata

Dukungan emosional memang penting, tetapi sering kali tidak cukup untuk membantu seseorang keluar dari situasi yang sulit. Korban juga membutuhkan bantuan yang konkret dan bisa dirasakan langsung.
Bantuan ini bisa berupa hal sederhana seperti menemani mencari bantuan profesional, membantu menghubungi pihak yang dipercaya, atau menyediakan tempat aman jika dibutuhkan.
Dalam situasi tertentu, bahkan kehadiran sebagai orang yang siap dihubungi kapan saja bisa memberikan rasa aman yang besar. Hal ini membantu korban merasa tidak sendirian.
Kalimat seperti “Kalau kamu butuh apa-apa, kabarin aja ya” mungkin terdengar sederhana, tetapi bisa menjadi titik awal bagi seseorang untuk berani mengambil langkah berikutnya.
Kapan Harus Bertindak Lebih Jauh?
Ada situasi di mana kita tidak bisa hanya menjadi pendengar. Ketika tanda-tanda kekerasan semakin jelas, langkah yang lebih aktif mungkin diperlukan.
Tanda-tanda tersebut bisa berupa kekerasan fisik, ancaman serius, atau isolasi dari lingkungan sosial. Dalam kondisi seperti ini, keselamatan menjadi prioritas utama.
Kamu bisa mempertimbangkan untuk menghubungi keluarga yang dipercaya atau mengarahkan korban ke lembaga pendamping yang memiliki kapasitas membantu secara profesional.
Langkah ini bukan berarti melanggar batas, tetapi bentuk kepedulian terhadap keselamatan orang yang kita sayangi.
Jangan Lupa Jaga Diri Sendiri
Menjadi support system bagi seseorang dalam situasi sulit bukan hal yang mudah. Secara emosional, ini bisa sangat menguras energi.
Ada kalanya kamu merasa frustrasi karena mereka belum juga mengambil keputusan, atau merasa terbebani karena ingin selalu ada. Perasaan ini wajar.
Penting untuk menyadari bahwa kamu tidak bisa mengontrol semua hal. Kamu hanya bisa mendampingi, bukan menentukan pilihan mereka.
Menjaga batas emosional bukan berarti tidak peduli, tetapi cara agar kamu tetap bisa hadir tanpa kehilangan diri sendiri.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar