periskop.id - Selama ini, magang kerap dipromosikan sebagai jalan pintas menuju dunia kerja. Namun, data terbaru justru menghadirkan tamparan keras bagi narasi tersebut. Berdasarkan data Sakernas Agustus 2025 yang diolah oleh Center of Economic and Law Studies (CELIOS), pengalaman magang tidak otomatis berujung pada peluang kerja yang lebih baik. Fakta di lapangan menunjukkan paradoks mencolok bahwa tingkat pengangguran di kalangan mantan pemagang mencapai 11,06%, jauh lebih tinggi dibanding mereka yang tidak pernah magang yang hanya berada di angka 4,98%. Temuan ini menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan dan industri untuk meninjau ulang efektivitas sistem magang yang selama ini dianggap ideal.
Pengangguran Lebih Tinggi di Kalangan Mantan Pemagang
Ketimpangan tersebut semakin terlihat ketika data penyerapan tenaga kerja diperhatikan. Kelompok tanpa pengalaman magang justru memiliki peluang bekerja yang lebih tinggi, yakni 72,01%, sementara pada mantan pemagang angkanya hanya 67,55%. Temuan ini dapat diartikan bahwa pengalaman magang belum tentu menjadi faktor penentu dalam mempercepat seseorang masuk ke dunia kerja.
Hal ini memberi sinyal kuat adanya ketidaksinkronan antara program magang dan kebutuhan riil industri. Dalam praktiknya, banyak peserta magang hanya diberi tugas administratif atau pekerjaan rutin yang minim pengembangan keterampilan teknis. Alhasil, ketika masa magang berakhir, mereka tidak memiliki kompetensi yang cukup kuat untuk bersaing di pasar kerja atau direkrut sebagai karyawan tetap.
Bukti Lulusan Nonmagang Lebih Cepat Mendapatkan Pekerjaan
Keyakinan bahwa magang membuat seseorang lebih cepat diterima kerja juga patut dipertanyakan kembali. Data menunjukkan bahwa mayoritas lulusan yang langsung mendapatkan pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan tinggi justru tidak memiliki pengalaman magang. Angkanya sangat kontras, yakni mencapai 94,51%. Sebaliknya, lulusan dengan pengalaman magang yang langsung bekerja hanya sebesar 5,49%. Hal serupa terjadi pada mereka yang sudah bekerja bahkan sebelum lulus, mayoritas dari mereka (93,88%) tidak menempuh jalur magang terlebih dahulu.
Mengapa kelompok tanpa magang bisa lebih cepat terserap di pasar kerja? Ada kemungkinan kelompok ini lebih fokus mengasah keahlian secara mandiri atau memiliki jejaring yang lebih luas di luar program formal. Sementara itu, program magang yang tersedia mungkin belum mampu memfasilitasi transisi yang mulus dari dunia pendidikan ke dunia profesional.
Evaluasi Program Magang untuk Masa Depan
Selain tingkat pengangguran, ada indikator lain yang tak kalah penting untuk dicermati, yaitu jumlah mantan pemagang yang akhirnya memilih mengurus rumah tangga. Data mencatat angkanya mencapai 11,11%, jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok yang tidak pernah magang yang hanya berada di angka 3,25%. Perbedaan ini memberi sinyal bahwa program magang belum sepenuhnya berhasil mendorong peserta masuk ke sektor kerja produktif.
Fakta tersebut memperkuat dugaan bahwa sebagian program magang masih melenceng dari tujuan utamanya. Magang idealnya menjadi ruang transfer pengetahuan dan keterampilan, bukan sekadar formalitas kurikulum atau cara perusahaan memperoleh tenaga kerja murah tanpa keberlanjutan karier.
Di tengah realitas ini, pencari kerja perlu mengalihkan fokus pada hal yang lebih penting, seperti membangun portofolio yang relevan dan menguasai teknologi yang benar-benar dibutuhkan industri. Saat ini, perusahaan cenderung menilai hasil kerja nyata dibanding deretan sertifikat magang tanpa keterampilan praktis. Oleh karena itu, evaluasi menyeluruh terhadap skema magang di Indonesia menjadi mendesak, agar program ini benar-benar menjadi solusi ketenagakerjaan, bukan justru menambah masalah baru.
Tinggalkan Komentar
Komentar