Periskop.id - Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) Didit Herdiawan Ashaf mengungkapkan, Tanggul Laut Raksasa atau Giant Sea Wall yang akan dibangun, diharapkan bertahan 100-200 tahun dalam melindungi pantai utara (Pantura) Jawa.

"Ini harus bertahan 100-200 tahun karena kita lihat sendiri kondisi di Belanda di bawah garis laut tapi mereka bisa hidup tenang sampai hari ini," ujar Didit di Jakarta, Senin (9/2). 

Rencana pembangunan Giant Sea Wall oleh pemerintah dalam rangka melindungi wilayah Pantura Jawa. Satu hal yang perlu dipahami, kata Didit, kebijakan Presiden RI adalah melindungi Pantura Jawa, bukan hanya membangun beton atau tanggul di tengah laut, tapi melindungi peradaban yang sudah ada di Pulau Jawa, mulai abad pertama sampai hari ini. 

“Dengan kondisi seperti ini maka program ini bisa dipastikan dapat dijalankan," kata Didit.

Dia juga menambahkan, dalam upaya untuk mewujudkan pembangunan Giant Sea Wall, maka BOPPJ tidak bisa bekerja sendirian, dibutuhkan kolaborasi antar kementerian/lembaga terkait serta pemerintah daerah mulai dari tingkat provinsi hingga kabupaten.

"Tentunya kami juga harus kolaborasikan dan mensinergikan dengan tata ruang wilayah baik itu yang darat maupun yang laut di setiap kabupaten," tuturnya. 

Sebagai informasi, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy menyampaikan, proyek Giant Sea Wall tidak hanya melindungi Pantai Utara Jawa dari banjir dan abrasi, tapi juga melindungi pusat-pusat perekonomian Indonesia.

Ia menuturkan, pihaknya mencatat 56 % dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia berasal dari Pulau Jawa, dan 70 % dari jumlah tersebut berasal dari Pantai Utara Jawa.

Rachmat mengatakan, pembangunan Giant Sea Wall dapat menjadi model baru pengembangan kawasan di Indonesia, terutama wilayah perkotaan di pesisir.

Ia menilai, Indonesia memiliki karakteristik alam yang unik, salah satunya garis pantai yang panjang karena adanya ribuan pulau, sehingga dibutuhkan kebijakan khusus terkait pembangunan kawasan.

Panjang 535 Km
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyebutkan bahwa Proyek Strategis Nasional Tanggul Laut Raksasa (Giant Sea Wall) siap dibangun membentang di Pantai Utara Jawa (Pantura), untuk melindungi 50 juta penduduk dari tingginya permukaan air laut.

Prabowo menjelaskan, pembangunan tanggul laut raksasa sepanjang 535 kilometer di Pantura menjadi solusi pemerintah dalam menghadapi kenaikan air laut sekitar 5 centimeter per tahun, akibat dampak perubahan iklim. Ia menilai, ancaman perubahan iklim sudah di depan mata. Selain itu, sebanyak 60% industri nasional berada di kawasan pantai utara Jawa.

Lahan sawah produktif yang menjadi lumbung pangan nasional juga dapat terancam jika tanggul laut tidak segera dibangun. Prabowo menegaskan, langkah ini merupakan bentuk tanggung jawab negara dalam melindungi rakyat dan aset strategis bangsa.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengungkapkan, peletakan batu pertama (groundbreaking) Giant Sea Wall di pesisir Jakarta, akan dilakukan pada bulan September mendatang.

Pramono juga mengatakan, Jakarta sudah siap mengerjakan 19 kilometer (km) bagian Giant Sea Wall sesuai arahan dari pemerintah pusat.

“Kami menunggu sepenuhnya arahan dari pemerintah pusat. Karena dulu Jakarta ini kebagian 12 kilo, tetapi kemarin ditambahkan tujuh menjadi 19. Mau 12, mau 19, Jakarta akan mengerjakan," kata Pramono. 

Sebagai persiapan, Pramono mengatakan Jakarta kini sedang membangun "National Capital Integrated Coastal Development" (NCICD), sebagai upaya penanggulangan banjir rob. "Rencananya groundbreaking-nya itu mulai bulan September tahun ini," katanya.

Pramono ingin pembangunan tanggul tersebut tak hanya tembok beton melainkan juga dibuatkan taman di sekitarnya.