Periskop.id - Selasa malam, (10/3), ruang publik tanah air dihebohkan oleh sebuah insiden di suatu program televisi swasta. Abu Janda (Permadi Arya) terpaksa diminta meninggalkan studio secara langsung oleh pemandu acara, Aiman Witjaksono.
Ketegangan memuncak saat ia bersikukuh menyebut dukungan sejarah Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia sebagai "hoaks", sebuah pernyataan yang didebat keras oleh pakar hukum tata negara Feri Amsari dan mantan Dubes RI, Prof. Ikrar Nusa Bhakti.
Pemandangan tersebut menyuguhkan kontras yang nyata: di satu sisi ada kemarahan dan nada bicara yang sangat meyakinkan, sementara di sisi lain ada argumen berbasis data dan kehati-hatian akademik.
Fenomena ini membawa kita pada sebuah pertanyaan besar: Pernahkah kamu bertemu dengan seseorang yang baru saja mempelajari satu topik, namun berbicara dengan nada yang sangat meyakinkan seolah ia adalah pakar dunia?
Di sisi lain, mereka yang sudah bertahun-tahun mendalami bidang yang sama justru cenderung berbicara lebih hati-hati dan sering kali terlihat ragu. Fenomena unik ini bukanlah sekadar kebetulan, melainkan sebuah realitas psikologis yang dikenal dengan nama Dunning-Kruger Effect.
Apa Itu Dunning-Kruger Effect?
Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh dua psikolog dari Cornell University, yaitu David Dunning dan Justin Kruger. Secara garis besar, ini adalah sebuah bias kognitif yang membuat seseorang merasa jauh lebih pintar atau kompeten daripada kemampuan aslinya.
Menurut temuan mereka, orang dengan kemampuan rendah di suatu bidang tertentu sering kali terjebak dalam delusi kehebatan diri sendiri.
Ironisnya, untuk menyadari bahwa kita melakukan kesalahan, kita sebenarnya membutuhkan tingkat pengetahuan yang cukup di bidang tersebut. Tanpa fondasi ilmu yang memadai, seseorang akan kesulitan menilai apakah tindakannya benar atau salah.
Dua Kendala Utama bagi Seseorang yang Kurang Kompeten
Dalam teori ini, seseorang yang kurang kompeten biasanya akan mengalami dua hal secara bersamaan.
Pertama, mereka lebih sering mengambil kesimpulan yang keliru. Kedua, mereka tidak memiliki kemampuan untuk menyadari kesalahan tersebut karena keterbatasan alat ukur dalam pikiran mereka sendiri.
Hal ini terjadi karena kemampuan untuk menilai diri sendiri atau metakognisi mereka masih sangat terbatas. Tanpa standar pengetahuan yang kuat, mereka tidak memiliki tolak ukur untuk melihat seberapa jauh jarak antara apa yang mereka tahu dengan kenyataan yang sebenarnya.
Guna memahami Dunning-Krugger Effect, bayangkan seseorang yang baru saja membaca satu artikel singkat atau menonton satu video pendek tentang topik yang kompleks. Karena baru mengetahui dasar-dasarnya, ia merasa sudah cukup paham untuk memberikan penilaian besar atau bahkan mendebat para ahli.
Padahal, ketika seseorang masuk ke level yang lebih dalam, ia akan menyadari bahwa topiknya ternyata jauh lebih rumit dan memiliki banyak lapisan. Dalam psikologi, keterbatasan seseorang dalam menilai kemampuan dirinya sendiri ini disebut sebagai bias metakognitif.
Pakar Justru Sering Merasa Kurang Mahir
Berbanding terbalik dengan mereka yang baru belajar, orang yang benar-benar ahli sering merasa kemampuannya biasa-biasa saja.
Menariknya, sebuah studi di Scientific Reports (2024) berjudul "No Strong Support for A Dunning-Kruger Effect in Creativity: Analyses of Self-Assessment in Absolute and Relative Terms" menunjukkan perspektif tambahan, di mana orang yang kompeten terkadang terjebak dalam anggapan bahwa jika suatu hal terasa mudah bagi mereka, maka orang lain pun pasti bisa melakukan hal yang sama dengan mudah.
Kondisi inilah yang melahirkan pepatah lama yang masih sangat relevan hingga kini: "Semakin berisi, semakin menunduk."
Artinya, semakin tinggi ilmu seseorang, semakin mereka menyadari betapa luasnya samudera pengetahuan yang belum mereka jelajahi.
Penting untuk diingat bahwa Dunning-Kruger Effect bisa terjadi pada siapa saja tanpa terkecuali. Tidak ada manusia yang benar-benar ahli dalam segala hal, sehingga kita semua berpotensi menjadi "si paling tahu" di bidang yang sebenarnya tidak kita kuasai.
Kunci untuk menghindari jebakan ini adalah dengan tetap terbuka pada masukan, kritik, dan terus menjalani proses belajar. Semakin banyak belajar, justru makin sadar bahwa masih banyak hal yang belum kita tahu. Dan di situlah proses belajar yang sebenarnya dimulai.
Tinggalkan Komentar
Komentar