Periskop.id - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mendapat sambutan hangat dari Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin saat melakukan kunjungan resmi ke Istana Kremlin pada Senin (13/4).

Pertemuan tersebut membahas berbagai potensi kerja sama strategis antara Indonesia dan Rusia di sejumlah sektor penting. Salah satu bidang yang mencuri perhatian adalah kerja sama di sektor antariksa.

“Antara lain, kita bicara mengenai kerja sama di bidang energi, di bidang antariksa, juga di bidang pertanian, di bidang penghasil industri, serta di bidang farmasi. Kami memberikan makna besar untuk mengembangkan kerja sama di bidang humaniter, antara lain di bidang pendidikan,” kata Putin, seperti dikutip dari laman resmi Presiden Republik Indonesia.

Kerja Sama Antariksa Mulai Menguat

Isu kerja sama antariksa antara Indonesia dan Rusia sebenarnya telah mengemuka sejak awal April 2026. Dilansir oleh Antara, Sabtu (4/4) Rusia bersama Belarus menyatakan kesiapan untuk menjalin kolaborasi dengan Indonesia dalam pembangunan infrastruktur antariksa dan eksplorasi ruang angkasa.

Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, menyebut negaranya memiliki kemampuan dan pengalaman yang cukup untuk mendukung kerja sama tersebut.

"Kami sekarang sedang membangun landasan peluncuran baru di Timur Jauh Rusia (Russia Far East). Jadi, itu berarti kami memiliki banyak keterampilan, pengalaman, dan kami siap bekerja sama," kata Tolchenov.

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Duta Besar Belarus untuk Indonesia, Raman Ramanouski.

"Belarus memiliki satelit sendiri yang juga mencakup wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dan kami sangat menantikan dan terbuka untuk bekerja sama dengan Indonesia di bidang eksplorasi ruang angkasa," ujarnya.

Biak dan Ambisi Bandar Antariksa Indonesia

Indonesia sendiri telah lama mengkaji potensi Pulau Biak sebagai lokasi peluncuran satelit. Wilayah ini dinilai strategis karena berada dekat dengan garis khatulistiwa.

Keunggulan geografis tersebut memungkinkan efisiensi energi dan biaya dalam peluncuran roket, khususnya untuk orbit rendah bumi.

Kajian pembangunan bandar antariksa di Biak telah dilakukan sejak 1990. Selain untuk kebutuhan domestik, fasilitas ini juga berpotensi dimanfaatkan oleh negara lain.

Secara regulasi, pembangunan sektor antariksa di Indonesia telah memiliki landasan hukum yang kuat. Hal ini mencakup Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan, Peraturan Presiden Nomor 45 Tahun 2017 tentang Rencana Induk Penyelenggaraan Keantariksaan 2016-2040, serta Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2023 yang menekankan penguasaan teknologi antariksa.

Menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), ekonomi antariksa global diperkirakan mencapai sekitar 5% dari Produk Domestik Bruto dunia. 

Pembangunan bandar antariksa di Biak diyakini dapat memberikan efek berlipat (multiplier effect) bagi perekonomian daerah, mulai dari penciptaan lapangan kerja hingga penguatan diplomasi teknologi.

Mengenal Roscosmos, Kekuatan Antariksa Rusia

Untuk memahami potensi kerja sama ini, penting melihat kemampuan Rusia melalui lembaga antariksa nasionalnya, Roscosmos.

Melansir The Planetary Society, Roscosmos bertanggung jawab mengembangkan dan mengoperasikan seluruh infrastruktur antariksa Rusia. Lembaga ini tidak hanya menjalankan penelitian dan pengembangan, tetapi juga menyediakan layanan peluncuran berawak dan komersial.

Roscosmos juga mengoperasikan jaringan satelit untuk komunikasi dan navigasi, serta mempertahankan program penerbangan antariksa berawak yang kuat.

Berbeda dengan badan antariksa seperti NASA atau ESA, Roscosmos memiliki karakter sebagai korporasi negara yang juga mengembangkan proyek antariksa untuk kepentingan militer.

Roscosmos merupakan badan eksekutif federal yang didanai melalui program-program pemerintah Rusia.

Selain itu, lembaga ini juga memperoleh pendanaan dari layanan komersial, seperti penjualan tiket penerbangan ke ISS kepada negara lain dan wisatawan luar angkasa.

Anggaran Roscosmos disusun setiap tiga tahun dan disahkan melalui mekanisme legislatif di Rusia.

Kantor pusatnya berada di Moskow, dengan berbagai fasilitas pendukung termasuk Kosmodrom Baikonur di Kazakhstan.

Secara historis, Roscosmos didirikan pada 25 Februari 1992 melalui dekret Presiden Boris Yeltsin untuk menyatukan biro-biro antariksa Uni Soviet yang sebelumnya saling bersaing. 

Setelah melalui berbagai restrukturisasi, pada 2015, badan ini bertransformasi menjadi korporasi negara yang menasionalisasi seluruh upaya antariksa Rusia di bawah satu kendali terintegrasi yang bermarkas di Moskow.

Misi Berawak dan Eksplorasi Rusia

Penerbangan antariksa berawak menjadi salah satu prioritas utama Roscosmos. Rusia merupakan kontributor utama dalam Stasiun Luar Angkasa Internasional dan secara rutin mengirim misi awak serta kargo.

Ke depan, Roscosmos berencana membangun stasiun luar angkasa orbit sendiri dengan memanfaatkan modul yang awalnya dirancang untuk ISS.

Selain itu, lembaga ini juga menjalankan berbagai misi ilmiah, termasuk peluncuran teleskop luar angkasa dan eksperimen biologis di orbit.

Rusia juga aktif dalam eksplorasi planet, dengan berbagai upaya untuk menjelajahi Bulan, Mars, serta satelit Mars, Phobos.

Dalam dekade mendatang, Roscosmos menargetkan misi ambisius untuk mendarat di Bulan dan Venus. Rusia juga telah menandatangani kerja sama dengan Badan Antariksa Nasional China untuk pembangunan pangkalan bulan berawak yang diperkirakan dimulai setelah 2028.

Namun, sejumlah pengamat menilai target tersebut menghadapi tantangan besar, terutama terkait keterbatasan sumber daya dan penurunan performa organisasi dalam beberapa tahun terakhir.

Warisan Besar dari Uni Soviet

Kekuatan Roscosmos tidak lepas dari warisan panjang program antariksa Uni Soviet.

Sejumlah pencapaian penting yang diwariskan antara lain peluncuran satelit pertama di dunia, Sputnik 1, serta pengiriman manusia pertama ke luar angkasa, Yuri Gagarin.

Uni Soviet juga menjadi pelopor dalam pembangunan stasiun luar angkasa, pendaratan di Bulan dan Venus, serta eksplorasi Mars.

Warisan ini menjadikan Rusia tetap sebagai salah satu kekuatan utama dalam industri antariksa global hingga saat ini.