Periskop.id - Pemerintah Indonesia terus berupaya memperkuat struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan mencari sumber pendanaan alternatif yang lebih efisien.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menargetkan penerbitan obligasi global berdenominasi yuan, yang secara populer dikenal sebagai Panda Bond, dapat segera direalisasikan pada Juni 2026 mendatang.
Penerbitan Panda Bond menjadi bagian krusial dari strategi diversifikasi pembiayaan luar negeri Indonesia. Dengan masuk ke pasar modal China, pemerintah berharap dapat mengurangi ketergantungan yang terlalu besar terhadap sumber pendanaan tunggal yang berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS).
Strategi ini penting untuk menjaga stabilitas fiskal di tengah fluktuasi mata uang global yang kerap tidak menentu.
Keunggulan Likuiditas China dan Bunga Rendah
Purbaya menilai bahwa China saat ini memiliki tingkat likuiditas yang sangat besar dengan kapasitas pasar keuangan yang sangat tinggi. Karakteristik pasar tersebut diharapkan mampu menyerap instrumen utang yang ditawarkan oleh pemerintah Indonesia secara optimal.
Pemerintah memperkirakan imbal hasil atau bunga dari obligasi ini akan berada di kisaran 2,3% hingga 2,5%. Tingkat bunga tersebut diklaim tergolong rendah jika dibandingkan dengan instrumen utang lainnya, sehingga secara efektif dapat menekan beban bunga yang harus dibayar negara.
Dalam persiapannya, Kementerian Keuangan mengungkapkan telah menjalin komunikasi dengan Industrial and Commercial Bank of China (ICBC). Pihak ICBC secara resmi menyatakan kesiapan mereka untuk berpartisipasi dan mendukung penerbitan instrumen ini.
Rencana besar tersebut merupakan tindak lanjut dari pembahasan bilateral antara Purbaya dengan Menteri Keuangan China, Lan Fo’an, yang berlangsung dalam rangkaian Pertemuan Musim Semi IMF dan Bank Dunia pada pertengahan April lalu di Washington, D.C.
Panda Bond Bukan Satu-Satunya Obligasi Berdenominasi Yuan
Sebagai bentuk kerja sama timbal balik, pemerintah Indonesia juga membuka pintu bagi pemerintah China untuk menerbitkan obligasi di pasar domestik Indonesia.
Namun, perlu dipahami bahwa Panda Bond bukanlah instrumen pertama Indonesia dalam mata uang yuan. Pada 2025, Indonesia telah sukses menerbitkan instrumen serupa yang disebut sebagai Dim Sum Bond.
Meskipun sama-sama menggunakan mata uang yuan sebagai basis nilai utangnya, terdapat perbedaan mendasar yang membedakan antara Panda Bond dan Dim Sum Bond, terutama dari sisi lokasi penerbitan dan jangkauan pasarnya.
Panda Bond merupakan obligasi yang diterbitkan oleh entitas luar negeri, seperti pemerintah Indonesia, yang dijual dan dipasarkan langsung di dalam wilayah daratan China (mainland).
Sebaliknya, Dim Sum Bond adalah instrumen utang yang juga diterbitkan oleh entitas non-China namun dipasarkan di luar wilayah daratan China, dengan pusat perdagangan utama yang biasanya berlokasi di Hong Kong.
Keberhasilan Indonesia dalam merilis Dim Sum Bond pada Oktober tahun lalu menjadi modal kepercayaan diri yang besar. Kala itu, pemerintah berhasil menghimpun dana sebesar 6 miliar yuan atau setara 879,5 juta dolar AS. Penawaran tersebut bahkan mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga tiga kali lipat dari nilai yang ditawarkan.
Obligasi tersebut mengantongi peringkat kredit yang cukup solid, yakni Baa2 dari Moody’s, serta peringkat BBB dari S&P dan Fitch. Direncanakan akan dicatatkan di Bursa Singapura (SGX-ST), transaksi ini melibatkan institusi keuangan global seperti Bank of China, HSBC, dan Standard Chartered sebagai penjamin emisi utama.
Dengan rekam jejak yang positif tersebut, kehadiran Panda Bond pada Juni mendatang diharapkan mampu memberikan dampak signifikan bagi penguatan ekonomi nasional.
Tinggalkan Komentar
Komentar