Periskop.id - Indonesia mendorong percepatan penguatan kerja sama kawasan Asia Tenggara, melalui Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama atau Treaty of Amity and Cooperation (TAC). Hal ini dinilai diperlukan di tengah meningkatnya dinamika geopolitik global yang tidak menentu

Dorongan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri RI Sugiono dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN (ASEAN Ministerial Meeting/AMM) yang berlangsung di Cebu, Filipina. "Di dunia yang semakin bergejolak, ASEAN tetap menjadi mitra yang terpercaya, stabil, dan dapat diandalkan; yang ditunjukkan oleh meningkatnya jumlah aksesi ke TAC. Kita juga harus mempercepat prosesnya karena sangat jelas bahwa ASEAN dipercaya oleh mitra eksternal kita," kata Sugiono dalam keterangannya, Kamis (7/5). 

Sugiono menilai, TAC memiliki peran strategis dalam memperluas kerja sama antara ASEAN dan negara mitra di berbagai bidang, mulai dari keamanan hingga ekonomi. Perjanjian ini menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas kawasan sekaligus meningkatkan kepercayaan global terhadap ASEAN.

Sejak diluncurkan pada 1976, TAC telah menjadi instrumen penting dalam diplomasi regional. Hingga 2026, sebanyak 57 negara telah bergabung dalam perjanjian tersebut, termasuk Aljazair dan Uruguay yang menandatangani pada 2025.

Data ASEAN Secretariat menunjukkan, peningkatan jumlah negara yang bergabung mencerminkan tingginya kepercayaan terhadap ASEAN sebagai kawasan yang stabil dan terbuka.

Kohesi Internal

Dalam forum tersebut, Indonesia juga menekankan pentingnya memperkuat kohesi internal ASEAN agar mampu menghadapi tantangan global yang semakin kompleks, seperti konflik geopolitik, ketegangan perdagangan, hingga isu keamanan regional.

Menurut Sugiono, ASEAN perlu lebih solid secara internal sekaligus adaptif dalam menjalin hubungan eksternal. Selain itu, ia juga menyoroti perlunya pendekatan baru dalam ASEAN Regional Forum (ARF), termasuk evaluasi terhadap moratorium mitra dialog.

Indonesia turut menegaskan dukungannya terhadap Turki untuk menjadi mitra dialog penuh ASEAN sebagai bagian dari upaya memperluas jaringan kerja sama strategis.

Tahun 2026 menjadi momen penting bagi ASEAN karena menandai 50 tahun TAC sejak pertama kali disepakati. Perjanjian ini telah berperan dalam menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan selama lima dekade.

Filipina sebagai tuan rumah KTT ASEAN 2026 mengangkat tema “Menavigasi Masa Depan Kita, Bersama” yang menekankan pentingnya kolaborasi regional di tengah perubahan global. Pertemuan tingkat menteri seperti AMM dan Dewan Komunitas Politik-Keamanan ASEAN (APSC) menjadi bagian dari rangkaian menuju KTT ASEAN ke-48.

Dorongan percepatan TAC sendiri dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat posisi ASEAN di kancah internasional. Dengan semakin banyak negara yang bergabung, ASEAN berpotensi menjadi pusat kerja sama multilateral yang lebih inklusif dan berpengaruh.

Di tengah ketidakpastian global, stabilitas kawasan Asia Tenggara menjadi nilai penting yang terus dijaga melalui mekanisme seperti TAC.

Indonesia dorong percepatan TAC ASEAN di forum AMM 2026. Perjanjian ini dinilai penting untuk stabilitas kawasan dan kerja sama global.