periskop.id - TikTok Shop dan Shopee resmi memberlakukan kebijakan baru terkait biaya layanan logistik atau ongkos kirim (ongkir) yang dibebankan kepada penjual.
Kebijakan ini langsung memicu reaksi dari banyak seller online, terutama UMKM dan pelaku usaha kecil yang mengandalkan marketplace sebagai sumber penjualan utama.
Mulai Mei 2026, penjual di TikTok Shop dan Shopee harus menanggung biaya tambahan untuk layanan logistik, mulai dari pengiriman standar hingga program Gratis Ongkir XTRA.
Bagi sebagian seller, kebijakan ini dianggap menambah beban operasional di tengah persaingan harga yang semakin ketat. Namun di sisi lain, platform e-commerce menyebut langkah tersebut diperlukan untuk menjaga kualitas layanan logistik dan keberlanjutan ekosistem marketplace.
TikTok Shop Mulai Bebankan Ongkir ke Penjual
TikTok Shop resmi memberlakukan biaya layanan logistik kepada seller untuk seluruh pesanan baru mulai 1 Mei 2026 pukul 10.00 WIB.
Kebijakan tersebut diumumkan langsung melalui situs resmi TikTok Shop sejak 22 April 2026.
Menurut TikTok Shop, biaya layanan logistik mencakup pemrosesan pesanan, koordinasi logistik, penanganan pengiriman, dukungan operasional pengiriman dan insentif pengiriman dasar
Rincian Tarif Ongkir TikTok Shop
Besaran biaya logistik TikTok Shop berbeda-beda tergantung wilayah pengiriman, jenis layanan, dan berat barang.
Pengiriman Standar
- Jawa ke Jakarta: mulai Rp690 hingga Rp4.350
- Jawa ke Jawa non-Jakarta: Rp990 hingga Rp5.060
- Jawa ke Kalimantan: Rp3.440 hingga Rp5.060
- Jawa ke Papua dan Maluku: hingga Rp5.060
Pengiriman Economy
- Jawa ke Kalimantan: Rp3.130 hingga Rp5.060
- Jawa ke Papua dan Maluku: Rp3.540 hingga Rp5.060
Pengiriman Cargo
- Jawa ke Jakarta: mulai Rp1.420
- Jawa ke Kalimantan/Sulawesi/Papua: hingga Rp5.060
Instant dan Same Day
Untuk layanan instan dan same day, TikTok Shop menetapkan tarif mulai sekitar Rp2.020 tergantung wilayah pengiriman.
Besaran biaya tersebut membuat banyak seller mulai menghitung ulang margin keuntungan, terutama untuk produk murah dengan profit tipis.
Shopee Juga Naikkan Beban Ongkir Seller
Tidak hanya TikTok Shop, Shopee Indonesia juga melakukan penyesuaian biaya layanan Gratis Ongkir XTRA mulai 2 Mei 2026.
Biaya ini berlaku berdasarkan kategori produk dan ukuran barang.
Produk Ukuran Biasa
Produk ukuran biasa adalah barang dengan:
- Berat di bawah 5 kg
- Panjang/lebar/tinggi di bawah 60 cm
- Dimensi kurang dari 20.000 cm³
Biaya layanan dikenakan mulai dari 1% hingga 8% tergantung kategori produk.
Untuk semua kategori, batas maksimal biaya layanan mencapai Rp40 ribu per produk.
Produk Ukuran Khusus
Sementara itu, produk ukuran khusus adalah barang dengan:
- Berat lebih dari atau sama dengan 5 kg
- Dimensi lebih dari atau sama dengan 60 cm
- Volume lebih dari atau sama dengan 20.000 cm³
Biaya layanan dikenakan mulai 2,5% hingga 9,5%.
Batas maksimal biaya layanan mencapai Rp60 ribu per produk.
Contoh Perhitungan Tarif Shopee Gratis Ongkir XTRA
Shopee juga memberikan rumus resmi perhitungan biaya layanan:
Biaya Layanan Gratis Ongkir XTRA = (Harga Produk - Diskon/Voucher Ditanggung Penjual) x Persentase Biaya Layanan
Contohnya:
- Produk aksesoris ukuran biasa dikenakan hingga 8%
- Produk aksesoris ukuran khusus bisa mencapai 9,5%
- Produk elektronik ukuran biasa sekitar 5,5%
- Elektronik ukuran khusus sekitar 7%
Artinya, semakin besar produk dan semakin tinggi kategori layanan, maka biaya yang harus ditanggung seller juga semakin besar.
Mengapa TikTok Shop dan Shopee Terapkan Kebijakan Ini?
Menurut TikTok Shop, kebijakan baru ini dilakukan untuk menjaga kualitas jaringan logistik dan memastikan layanan pengiriman tetap berjalan optimal dalam jangka panjang.
Platform marketplace saat ini menghadapi tantangan besar, mulai dari kenaikan biaya operasional logistik, perubahan kondisi ekonomi global, hingga persaingan layanan gratis ongkir antar platform.
Sementara itu, Shopee juga terus melakukan penyesuaian strategi agar program Gratis Ongkir XTRA tetap berkelanjutan.
Dampak bagi UMKM dan Penjual Online
Bagi UMKM, perubahan kebijakan ongkir ini bisa memberikan dampak cukup besar.
Penjual dengan volume kecil dan profit rendah menjadi kelompok yang paling rentan terdampak.
Di sisi lain, seller besar dengan volume penjualan tinggi kemungkinan masih mampu menyesuaikan strategi bisnis mereka.
Karena itu, banyak pelaku usaha online kini mulai mencari berbagai strategi agar tetap bisa bertahan di tengah kenaikan biaya operasional marketplace. Sejumlah seller mulai mempertimbangkan menaikkan harga produk secara bertahap, mengurangi subsidi promo, hingga memilih jasa logistik yang dianggap paling efisien. Selain itu, tidak sedikit penjual yang mulai memaksimalkan penjualan melalui live shopping dan mengoptimalkan strategi bundling produk untuk menjaga margin keuntungan tetap stabil.
Apakah Pembeli Akan Ikut Terdampak?
TikTok menegaskan bahwa biaya ini sepenuhnya dibebankan kepada penjual dan tidak akan muncul di sisi pembeli saat checkout.
“Pembeli tidak terpengaruh. Biaya ini ditangani di sisi penjual dan tidak akan ditampilkan kepada pembeli saat checkout,” tegas TikTok pada keterangan resminya.
Meski TikTok Shop dan Shopee menyebut biaya ini dibebankan ke seller, banyak pihak menilai pembeli tetap berpotensi terdampak secara tidak langsung.
Pasalnya, seller kemungkinan akan menaikkan harga produk untuk menutupi biaya tambahan. Dan jika kondisi ini terjadi secara masif, maka tren harga barang di marketplace bisa ikut mengalami kenaikan.
Jika sebelumnya marketplace agresif memberikan subsidi besar-besaran, kini platform mulai lebih selektif demi menjaga profitabilitas dan efisiensi operasional.
Tinggalkan Komentar
Komentar