Periskop.id - Asia Tenggara berisiko menghadapi tekanan baru pada pasokan dan harga pangan. Kenaikan harga minyak, mahalnya pupuk, serta potensi El Niño yang kuat pada akhir 2026 disebut dapat menciptakan guncangan berlapis bagi rantai pasok pangan di kawasan.

Peringatan itu disampaikan Goldman Sachs sebagaimana dikutip CNBC pada Senin (22/6). Bank investasi tersebut menilai konflik di Timur Tengah dapat memicu kenaikan harga energi dan pupuk, dua komponen penting dalam produksi serta distribusi pangan.

Advertisement

Dalam konteks Asia Tenggara, dampak ini menjadi penting karena banyak negara di kawasan masih bergantung pada impor pangan, pupuk, maupun energi. Ketika harga minyak dan pupuk naik bersamaan, biaya produksi pertanian dan biaya pengiriman bahan pangan berpotensi ikut terdorong.

“Guncangan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah telah muncul pada komponen CPI (consumer price indeks) yang sensitif terhadap bahan bakar, dan kenaikan harga pupuk akan meningkatkan biaya input pertanian,” ujar Goldman.

El Nino Jadi Risiko Berlapis

Goldman Sachs tidak hanya menyoroti risiko geopolitik di Timur Tengah. Laporan tersebut juga mengingatkan bahwa faktor cuaca dapat memperparah tekanan terhadap pasokan pangan.

“Potensi peristiwa El Niño yang kuat pada akhir 2026 dapat menciptakan guncangan pasokan pangan lain tepat saat tekanan harga minyak dan pupuk merambat melalui rantai pasokan pangan,” tambah bank investasi tersebut.

Di sejumlah negara, El Niño dapat memicu kekeringan, mengganggu musim tanam, menurunkan hasil panen, dan menghambat produksi pangan.

Jika fenomena ini terjadi saat harga energi dan pupuk sedang tinggi, maka tekanan terhadap pangan bisa menjadi lebih berat. Petani harus menghadapi biaya input yang lebih mahal, sementara produksi berisiko menurun karena gangguan cuaca.

Situasi seperti ini dapat mendorong harga pangan naik dalam beberapa tahap. Pada tahap awal, kenaikan minyak dapat meningkatkan biaya transportasi dan distribusi. Setelah itu, kenaikan pupuk dapat menaikkan biaya produksi pertanian. 

Jika kemudian El Niño mengganggu panen, pasokan pangan dapat menyusut dan harga berpotensi semakin mahal.

Singapura dan Filipina Paling Cepat Terpapar

Singapura dan Filipina menjadi dua negara Asia Tenggara yang diperkirakan paling cepat terpapar guncangan harga pangan global. Penyebabnya, kedua negara tersebut merupakan importir pangan bersih.

Singapura memiliki keterbatasan lahan pertanian dan sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan pangan. Karena itu, perubahan harga pangan global dapat langsung memengaruhi biaya pasokan di dalam negeri.

Filipina juga menghadapi risiko serupa. Ketergantungan pada impor membuat harga pangan domestik lebih mudah terpengaruh ketika terjadi lonjakan harga di pasar internasional.

Dalam situasi harga pangan global naik, pemerintah di negara-negara importir pangan biasanya menghadapi pilihan sulit. Mereka perlu menjaga harga tetap terjangkau bagi masyarakat, tetapi pada saat yang sama harus memperhitungkan beban fiskal jika subsidi atau intervensi pasar diperbesar.

Indonesia dan Malaysia Tetap Rentan

Goldman Sachs juga mencatat bahwa negara lain di Asia Tenggara tetap rentan terhadap guncangan harga pangan, termasuk Indonesia dan Malaysia.

Sekilas, kedua negara ini tampak lebih terlindungi karena memiliki sektor minyak sawit yang kuat. Namun, jika sektor minyak sawit tidak diperhitungkan, keduanya tetap tergolong importir pangan bersih.

Artinya, kekuatan ekspor minyak sawit tidak serta-merta membuat Indonesia dan Malaysia bebas dari risiko kenaikan harga pangan global. Kebutuhan terhadap sejumlah komoditas pangan, bahan baku makanan, atau input pertanian tetap dapat bergantung pada pasar luar negeri.

Bagi Indonesia, risiko ini relevan karena harga pangan sangat berpengaruh terhadap inflasi dan daya beli masyarakat. Kenaikan harga bahan pokok dapat langsung dirasakan rumah tangga, terutama kelompok berpendapatan rendah.

Jika harga pupuk ikut naik, biaya produksi petani juga berpotensi meningkat. Pada akhirnya, tekanan biaya tersebut bisa diteruskan ke harga jual pangan di tingkat konsumen.

Thailand Terpapar Lewat Impor Pupuk

Thailand juga masuk dalam daftar negara yang rentan, meskipun posisinya dikenal sebagai salah satu produsen dan eksportir pangan penting di kawasan.

Lebih dari 90% kebutuhan pupuk Thailand berasal dari impor. Ketergantungan ini membuat negara tersebut tetap terpapar guncangan harga pangan global melalui kenaikan biaya input pertanian.

Pupuk merupakan salah satu komponen penting dalam produktivitas pertanian. Ketika harga pupuk naik, biaya tanam ikut meningkat. Jika petani mengurangi penggunaan pupuk karena harganya terlalu mahal, hasil panen dapat turun. Namun, jika petani tetap memakai pupuk dengan harga tinggi, biaya produksi akan naik dan berpotensi mendorong harga pangan.

Dengan demikian, negara yang memiliki sektor pertanian kuat pun tetap bisa terdampak jika input produksinya bergantung pada impor.

Biaya Logistik yang Makin Mahal

Kekurangan bahan bakar akibat perang Iran juga diperkirakan dapat tercermin pada harga pangan. Hal ini terjadi karena energi merupakan input utama dalam produksi dan distribusi komoditas.

Menurut makalah dari London School of Economics and Political Science, energi menjadi salah satu biaya penting dalam proses produksi serta transportasi komoditas seperti pangan. Karena itu, fluktuasi harga minyak dapat dengan cepat diteruskan sepanjang rantai pasokan.

Dalam praktiknya, kenaikan harga minyak dapat memengaruhi biaya operasional kapal, truk, mesin pertanian, gudang pendingin, dan distribusi ritel. Semua komponen ini berperan dalam membawa pangan dari lahan produksi hingga ke meja konsumen.

Jika harga minyak naik dalam waktu lama, tekanan biaya tidak hanya muncul sesaat. Dampaknya dapat menyebar ke banyak titik dalam rantai pasok dan membuat harga akhir pangan semakin mahal.

Inflasi Pangan Bisa Naik dalam 6 sampai 18 Bulan

Goldman Sachs memperkirakan guncangan gabungan dari volatilitas minyak, harga pupuk, dan dampak El Niño dapat menambah rata-rata 1 poin persentase pada inflasi pangan kawasan setelah enam bulan. 

Setelah 12 bulan, dampaknya diperkirakan meningkat menjadi 2,1 poin persentase, sebelum sedikit mereda menjadi 2 poin persentase dalam 18 bulan.

“Perkiraan ini sebaiknya dibaca sebagai tekanan tambahan di atas tren inflasi pangan biasa, bukan sebagai prediksi inflasi pangan total,” tambah laporan itu.

Dengan kata lain, angka tersebut bukan berarti inflasi pangan total Asia Tenggara hanya sebesar 1% atau 2%. Goldman menekankan bahwa angka itu merupakan tambahan tekanan di atas tren inflasi pangan yang sudah berjalan.

Jika suatu negara sebelumnya sudah menghadapi inflasi pangan akibat faktor domestik, seperti cuaca lokal, gangguan distribusi, atau kebijakan harga, maka tekanan dari minyak, pupuk, dan El Niño dapat memperberat situasi.

Dengan demikian, Goldman Sachs menilai bahwa pemerintah di Asia Tenggara bakal menghadapi dilema antara menjaga stabilitas harga pangan dan mengelola tekanan harga bahan bakar.

Ketika harga minyak naik, pemerintah harus memutuskan apakah akan menahan harga energi melalui subsidi atau membiarkan harga menyesuaikan dengan pasar. Namun, keputusan di sektor energi dapat berdampak pada pangan karena bahan bakar digunakan dalam produksi dan distribusi makanan.

Jika harga bahan bakar dibiarkan naik, biaya pangan berisiko ikut meningkat. Namun, jika subsidi diperbesar, beban fiskal negara dapat bertambah.