Periskop.id - Saham SpaceX terus tertekan dan kini diperdagangkan mendekati level harga penawaran umum perdana (initial public offering/IPO). Perusahaan antariksa milik Elon Musk itu melantai di bursa Nasdaq pada harga US$135 per saham, dengan dana IPO terkumpul mencapai US$85,7 miliar, terbesar sepanjang sejarah pasar modal.

Valuasi perusahaan sempat menembus US$1,7 triliun saat debut, bahkan kapitalisasi pasarnya melonjak hingga US$2,67 triliun. Namun reli tersebut tak bertahan lama.

Pada perdagangan Senin (13/7), saham SpaceX sempat menyentuh US$136,78 sebelum ditutup di US$139,14, turun 4,2% dalam sehari. Dari puncaknya pada 16 Juni, saham perusahaan telah terkoreksi sekitar 39,4%, membuat nilai pasarnya menyusut US$831 miliar dan tergeser ke peringkat ketujuh perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Amerika Serikat.

Kepala Riset Cerity Partners Michael Ashley Schulman menilai pelemahan harga saham yang mendekati level IPO ini belum bisa dikategorikan sebagai krisis. "SpaceX yang kembali mendekati harga IPO masih jauh dari kondisi krisis. Ini lebih mencerminkan premi ekspektasi yang sempat melekat pada saham tersebut mulai mereda dalam jangka pendek," ujar Schulman dikutip dari Market Watch, Selasa (14/7).

Menurutnya, tekanan harga saat ini juga tak lepas dari masuknya SpaceX ke indeks Nasdaq-100, yang sebelumnya justru mendorong pembelian oleh investor pasif. Di sisi lain, jumlah saham beredar yang relatif terbatas membuat pergerakan harga jadi lebih volatil.

Valuasi SpaceX memang menuai perdebatan sejak awal. Pada 2025, perusahaan membukukan pendapatan sekitar US$18,6 miliar dengan rugi bersih sekitar US$4,9 miliar.

Sebagai perbandingan, Broadcom mencatat pendapatan US$63,9 miliar dan laba bersih US$23,1 miliar pada tahun fiskal terakhirnya. Meski begitu, optimisme investor masih bertumpu pada ambisi besar SpaceX, mulai dari kolonisasi Mars, pembangunan jaringan lebih dari satu juta satelit, hingga proyek infrastruktur di bulan.

SpaceX memperkirakan potensi pasar yang bisa digarap mencapai US$28,5 triliun, sementara sejumlah analis Wall Street masih mempertahankan target harga yang agresif untuk saham tersebut.

Dalam jangka pendek, perhatian pasar akan tertuju pada uji terbang ke-13 roket Starship yang dijadwalkan berlangsung pekan ini. Misi tersebut menjadi katalis penting karena Starship merupakan tulang punggung pengembangan layanan Starlink dan strategi kecerdasan buatan (AI) SpaceX.

Otoritas Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) telah memberikan izin peluncuran usai menutup investigasi atas kegagalan peluncuran sebelumnya. Pada misi kali ini, SpaceX berencana mengirim 20 satelit Starlink V3 menggunakan Starship untuk pertama kalinya.

Kepala Riset Horizon Investments Mike Dickson menyebutkan, seiring berjalannya waktu, investor akan semakin fokus pada fundamental bisnis perusahaan. "Investor pada akhirnya akan menilai SpaceX berdasarkan kinerja berbagai lini usahanya, bukan lagi sekadar euforia setelah IPO," pungkas Dickson.