Kalau ada yang bertanya apa hal yang paling sulit dalam hidup saya saat ini, mungkin jawabannya bukan pekerjaan, uang, atau keluarga. OVT terbaik yang hingga kini sering bikin saya tidur larut malam justru hal yang terdengar sederhana, mencari pasangan.
Saya perempuan, usia 30 tahunan awal. Ingatan saya tentang “nyari pacar” ini tak terlalu sulit kalau merujuk kehidupan di masa remaja, SMA atau kuliah. Saat muda, rasanya semuanya begitu mudah. Setiap hari bertemu orang baru. Ada teman sekelas, teman organisasi, random guy satu kampus, teman nongkrong, sampai kenalan dari acara-acara tertentu.
Bahkan kalau sedang tidak mencari pasangan sekalipun, selalu ada saja peluang untuk mengenal orang baru.
Sekarang kondisinya sangat berbeda.
Lingkaran pertemanan saya semakin kecil dari tahun ke tahun. Teman-teman dekat sudah sibuk dengan pekerjaan, keluarga, atau yang paling umum, anak-anak mereka. Acara kumpul-kumpul pun semakin jarang. Kalau dulu setiap akhir pekan selalu ada kegiatan, sekarang kadang satu bulan berlalu tanpa bertemu siapa-siapa selain rekan kerja yang bisa dibilang itu-itu aja.
Apakah saya ngoyo dengan hal ini? Tidak juga. Saya pernah kok di fase berpikir mungkin jodoh akan datang dengan sendirinya. Namun, semakin bertambah usia, ‘mode cuek’ itu mulai memudar. Makin hari saya makin sadar kesempatan bertemu orang baru ternyata tidak sebanyak dulu.
Karena itulah suatu hari seorang teman menyarankan saya mencoba aplikasi kencan online. Katanya sekarang banyak orang menemukan pasangan dari sana.

Bukan tanpa pengetahuan. Saya sering mendengar tentang aplikasi-aplikasi kencan. Di era-nya Tinder mungkin menjadi pionir namun saya terlalu malu untuk mendapati diri saya diketahui kesulitan cari pacar hingga harus berjuang ketemu strangers di jagat maya.
Namun hari ini saya rasa persetan dengan rasa malu. Sisa-sisa sirkel saya kini sudah tahu kok saya kesulitan dengan sisi relationship ini. Singkatnya saya pun mulai menggunakan aplikasi kencan Bumble, yang dari banyak rekomendasi paling ramah di antara aplikasi-aplikasi lainnya.
Jujur saja, pengalaman pertama cukup mengejutkan.
Ternyata ada cukup banyak laki-laki yang memberikan respons. Beberapa di antaranya bahkan terlihat menarik. Ada yang pekerjaannya bagus, cara berbicaranya sopan, fotonya meyakinkan, dan tampak memiliki kehidupan yang stabil.
Awalnya saya sempat merasa optimis. Mungkin memang begini cara orang zaman sekarang mencari pasangan. Namun semakin lama menggunakan aplikasi tersebut, saya mulai menemukan kenyataan yang tidak terlalu menyenangkan. Saya melewatkan kenyataan bahwa semua yang saya lihat itu adalah sebuah akun yang bisa dikustomisasi oleh pria-pria di belakangnya.
Situasi antiklimaks pun terjadi hampir di setiap obrolan yang berujung pada pertemuan. Paling mengganggu adalah kenyataan penggunaan filter foto. Di aplikasi tampak wajahnya segar merona, pas ketemu ya bisa sangat berbeda.
Ada yang real cakep, tapi ternyata banyak red flag-nya. Entahlah pas ketemu ternyata sombong, arah obrolannya mesum, atau sekadar gak nyambung karena seperti kurang pintar.
Nah, sepanjang perjalanan saya akhirnya ketemu juga kok dengan yang green flag. Ngobrol online cocok, ketemu seru, fisik oke, kerjaan stabil, tapi nyatanya ini justri yang paling berbahaya.
Mostly yang kaya begini pasti entah sudah menikah atau ya udah simply taken aja.
Saya pernah bertanya dalam hati, kenapa orang yang sudah memiliki pasangan masih aktif mencari perhatian di aplikasi kencan? Saya tidak pernah benar-benar menemukan jawabannya selain jawaban-jawaban standar secara psikologis, “pencarian validasi di luar rumah.”
Yang jelas, pengalaman seperti itu membuat saya semakin hati-hati. Saya jadi sering curiga dan selalu merasa perlu memverifikasi setiap cerita yang saya dengar dari pria-pria yang saya temukan di aplikasi ini.
Masalahnya, bahkan ketika saya berhasil menemukan pria green flag yang benar-benar lajang, tantangannya tetap ada.
Chemistry.
Hal yang satu ini ternyata jauh lebih sulit ditemukan daripada yang saya kira.

Saya pernah memaksakan diri melanjutkan komunikasi dengan seseorang karena berpikir bahwa mungkin rasa cocok bisa tumbuh seiring waktu. Namun pada akhirnya saya tetap merasa ada sesuatu yang kurang. Silakan judge saya soal standar ketinggian atau apapun, namun pada akhirnya jawaban paling sederhana yang bisa saya temukan adalah kedewasaan membuat saya lebih banyak menimbang.
Mungkin banyak perempuan seusia saya yang juga mengalami hal serupa.
Semakin dewasa, kita semakin tahu apa yang kita inginkan. Di satu sisi itu baik karena kita tidak mudah terjebak dalam hubungan yang salah. Tetapi di sisi lain, standar dan pertimbangan yang semakin banyak justru membuat proses mencari pasangan menjadi lebih rumit.
Saat masih muda, rasanya cukup mudah menyukai seseorang. Sekarang ada banyak hal yang dipikirkan. Nilai hidup, tujuan masa depan, karakter, kebiasaan, kondisi finansial, cara menyelesaikan konflik, dan berbagai hal lain yang dulu mungkin tidak terlalu saya perhatikan.
Belum lagi tekanan sosial yang datang dari berbagai arah.
Anehnya, tekanan dari keluarga justru bukan masalah terbesar bagi saya. Mungkin karena saya sudah cukup sering menghadapinya sehingga lama-kelamaan terbiasa. Ketika ada pertanyaan soal kapan menikah, saya sudah punya cara sendiri untuk menanggapinya.
Yang lebih sulit justru melihat teman-teman perempuan saya satu per satu menikah.
Setiap beberapa bulan ada undangan pernikahan baru. Lalu foto kehamilan. Kemudian foto anak pertama. Setelah itu anak kedua. Saya tentu ikut bahagia untuk mereka.
Namun saya tidak bisa bohong bahwa terkadang muncul perasaan tertinggal. Bukan karena saya ingin hidup yang persis sama dengan mereka, tetapi karena saya merasa semua orang bergerak maju sementara saya masih berdiri di sini-sini aja.
Perasaan itu kadang datang saat malam hari ketika sedang sendirian. Saya mulai membandingkan diri dengan orang lain, meskipun saya tahu hal tersebut tidak sehat.
Ada masa ketika saya bertanya kepada diri sendiri apakah saya melakukan sesuatu yang salah.
Yang saya tahu, mencari pasangan di usia dewasa memang berbeda dibandingkan saat SMA atau kuliah. Dulu kesempatan bertemu orang baru muncul hampir setiap hari. Sekarang kesempatan itu harus dicari secara sengaja.
Kadang saya membayangkan berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi di masa depan.
Mungkin suatu hari ada teman yang mengenalkan saya kepada seseorang dan ternyata kami cocok. Mungkin saya akan bertemu pasangan di tempat yang tidak terduga. Mungkin juga saya akan terus mencoba aplikasi kencan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Atau mungkin, skenario yang paling sulit saya bayangkan, di mana akhirnya saya lega menjalani hidup tanpa menikah sama sekali.

Pada akhirnya saya mulai memahami bahwa tidak semua hal dalam hidup bisa direncanakan. Kita bisa berusaha, membuka diri, bertemu orang baru, dan memberi kesempatan pada hubungan untuk berkembang. Namun hasil akhirnya tetap tidak bisa dipaksa.
Saya masih berharap bisa menemukan pasangan yang tepat suatu hari nanti. Harapan itu masih ada. Tetapi untuk sekarang, saya rasa saya hanya bisa mencoba berdamai dengan prosesnya.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar