periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah akan menerapkan bea keluar terhadap komoditas batubara pada tahun 2026 mendatang. Purbaya menyebut, perkembangan Harga Batubara Acuan (HBA) menunjukkan tren penurunan yang cukup tajam sejak pertengahan tahun 2023.

"Untuk itu, instrumen bea keluar disiapkan guna meningkatkan penerimaan negara sekaligus mendorong peningkatan kinerja dan dekarbonisasi yang saat ini mekanismenya sedang kami finalisasi bersama kementerian terkait," kata Purbaya dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI, Jakarta, dikutip Selasa (9/12).

Purbaya membeberkan pada 2025, HBA diperkirakan berada di kisaran US$111 per ton, jauh lebih rendah dibandingkan periode puncaknya. Sementara proyeksi tahun 2026 menunjukkan bahwa harga kemungkinan bergerak pada kisaran US$95 sampai dengan US$100 per ton.

Ia menilai meskipun Indonesia merupakan produsen batu bara terbesar ketiga dunia, mayoritas ekspor masih berupa bahan mentah bernilai tambah rendah sehingga berpotensi mengurangi nilai ekonomi yang lebih tinggi. Oleh karena itu, demi menjamin energi yang merata dan terjangkau, batu bara tetap menjadi tulang punggung pasokan untuk menjaga stabilitas tarif listrik bagi rakyat dan industri.

Pemerintah tetap berkomitmen mendorong transisi menuju energi yang lebih bersih, namun dilakukan secara bertahap, berkeadilan, dan berkelanjutan.

"Pendekatan ini sangat penting agar upaya penurunan emisi tetap berjalan, tetapi tidak mengganggu ketahanan energi nasional. Batu bara tidak hanya berperan sebagai sumber energi, tetapi memiliki potensi besar untuk mendukung kinerja industri nasional," terangnya.

Ia menyebut beberapa negara seperti China dan India telah memanfaatkan batu bara untuk menghasilkan berbagai produk turunan yang bernilai tambah lebih tinggi.

"Batu bara menjadi salah satu komoditas strategis yang dapat memperkuat struktur industri nasional. Pendekatan ini juga sejalan dengan upaya dekarbonisasi, di mana pemanfaatan batu bara diarahkan melalui teknologi dan proses yang lebih efisien, serta menghasilkan emisi yang lebih rendah," tutup Purbaya.