periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah bukan merupakan sinyal bahwa perekonomian Indonesia sedang menuju krisis seperti yang terjadi pada tahun 1998.

‎Menurutnya, anggapan sebagian pihak yang menyebut Indonesia sudah berada di ambang resesi hingga mengarah pada krisis 1998 tidak sesuai dengan kondisi fundamental ekonomi saat ini.

‎"Rupiah 17.000, IHSG anjlok karena sebagian teman-teman ekonom bilang katanya kita sudah resesi menuju 1998 lagi. Gitu lah. Daya beli sudah hancur. Tidak seperti itu. Ekonomi sedang ekspansi, daya beli kita jaga mati-matian. Dan boro-boro krisis, resesi aja belum. Melambatnya aja belum," ujar Purbaya kepada media, Jakarta, Senin (9/3).

‎Bendahara negara itu, menegaskan kondisi tersebut tidak mencerminkan situasi ekonomi sebenarnya. Pemerintah memastikan perekonomian nasional masih berada dalam fase ekspansi dan terus dijaga agar tetap tumbuh.

‎"Kita masih ekspansi, masih akselerasi. Itu yang kita jaga terus dalam beberapa minggu ke depan," terangnya. 
‎Purbaya juga meminta para investor di pasar saham untuk tidak khawatir, karena pemerintah terus menjaga fundamental ekonomi nasional agar tetap kuat di tengah dinamika global.

"Jadi yang investor di pasar saham nggak usah takut, pondasi kita jaga betul," imbuhnya. 
‎Menurutnya pemerintah telah memiliki pengalaman dalam menghadapi berbagai gejolak ekonomi, termasuk krisis global 2008-2009 dan pandemi pada 2020. Pada periode tersebut, Indonesia dinilai mampu menjaga stabilitas dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi.

"Jadi teman-teman nggak usah takut, kita sudah punya pengalaman dan pengetahuan yang cukup untuk memitigasi segala gejolak yang terjadi. Tentunya dengan langkah-langkah yang diperlukan, selalu diperlukan. Yang jelas kalau pengalaman 2008, 2020, 2015, kita bisa menjaga momentum pertumbuhan ekonomi kita," tutupnya.