periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026, seiring penguatan indeks dolar AS serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dunia. Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah ditutup melemah 24 poin ke level Rp16.949 per dolar AS dari penutupan sebelumnya Rp16.925.

“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 24 poin, setelah sebelumnya sempat melemah hingga 70 poin di level Rp16.949 dari penutupan sebelumnya di level Rp16.925,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Senin (9/3).

Dari faktor eksternal, indeks dolar AS tercatat menguat pada perdagangan Senin di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi tersebut memicu lonjakan tajam harga energi global dan meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven.

Harga minyak dunia bahkan melonjak hingga sekitar 30% dan melampaui level 100 dolar AS per barel, mendekati level tertinggi yang sempat terjadi pada awal perang Rusia-Ukraina pada 2022. Kenaikan tajam ini terjadi setelah serangan udara Israel dan Amerika Serikat menargetkan fasilitas minyak Iran pada akhir pekan.

Teheran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan rudal terhadap sejumlah fasilitas minyak di kawasan Timur Tengah. Selain itu, Iran juga dilaporkan menyerang kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz sehingga secara efektif mengganggu jalur pelayaran energi strategis tersebut.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur utama distribusi minyak bagi sebagian besar negara di Asia. Potensi terganggunya jalur tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global yang dapat memicu lonjakan inflasi baru.

Di sisi lain, Iran pada Senin juga menunjuk Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. Pergantian kepemimpinan tersebut dinilai menandakan kelompok garis keras tetap memegang kendali politik di Teheran di tengah konflik yang masih berlangsung dengan Amerika Serikat dan Israel.

Dari kawasan Asia, data menunjukkan inflasi indeks harga konsumen (CPI) China meningkat 1,3% secara tahunan pada Februari. Angka tersebut lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 0,9% dan menjadi laju inflasi tercepat dalam tiga tahun terakhir.

Kenaikan inflasi China terutama didorong oleh lonjakan konsumsi selama periode libur panjang Tahun Baru Imlek. Permintaan untuk perjalanan, jasa, dan barang diskresioner meningkat tajam, meskipun indeks harga produsen masih berada dalam fase kontraksi.

Dari dalam negeri, lonjakan harga minyak global juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia. Harga minyak dunia yang telah menyentuh sekitar 92 dolar AS per barel jauh melampaui asumsi makro APBN 2026 yang dipatok di kisaran 70 dolar AS per barel.

Kenaikan harga minyak tersebut berpotensi meningkatkan defisit anggaran sekitar Rp6,8 triliun. Jika harga minyak terus meningkat hingga mendekati atau bahkan melampaui 100 dolar AS per barel, defisit APBN terhadap produk domestik bruto (PDB) berisiko terdorong mendekati 4%.

Angka tersebut dinilai cukup berisiko karena melampaui batas defisit 3% yang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Gangguan distribusi minyak akibat konflik di Selat Hormuz juga dinilai menjadi salah satu pemicu utama lonjakan harga energi global saat ini.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, pemerintah dinilai perlu melakukan sejumlah langkah strategis. Salah satunya dengan melakukan efisiensi anggaran negara sehingga belanja pemerintah lebih difokuskan pada kebutuhan dasar masyarakat seperti pendidikan, kesehatan, pangan, energi, serta pengentasan kemiskinan.

Langkah lainnya adalah mempercepat program konversi energi dari minyak menuju energi baru dan terbarukan. Pengembangan energi seperti tenaga surya (PLTS), tenaga air (PLTA), dan tenaga angin (PLTB) dinilai dapat menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi berbasis minyak.

Selain itu, pemerintah juga didorong untuk memperkuat stimulus ekonomi melalui deregulasi serta penyederhanaan birokrasi guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp16.950 hingga Rp17.000 per dolar AS,” ujar Ibrahim.