periskop.id - Presiden Prabowo Subianto menanggapi maraknya narasi pesimistis mengenai kondisi ekonomi Indonesia. Kepala negara menilai sebagian pengamat sengaja melempar analisis tanpa basis data sekadar memicu kecemasan masyarakat.
"Ya, ini pengamat-pengamat ada beberapa macam menurut saya, ada pengamat yang memang tidak suka pemerintahnya sendiri berhasil, karena berbagai motivasi," ucap Prabowo saat memberikan arahan dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jumat (13/3).
"Tapi menurut saya mereka itu sikap yang sempit, bukan sikap patriotik, mungkin karena merasa kalah, tidak punya kekuasaan, atau ada pihak yang hilang rezeki, terutama maling-maling, koruptor-koruptor yang merasa rugi dengan pemerintah kita,” sambungnya.
Serangan opini negatif ini dinilai sama sekali tidak mencerminkan semangat kebangsaan. Aktor intelektual penyebar kampanye hitam perekonomian perlahan mulai terdeteksi oleh radar pemerintah.
Presiden mengaku telah menerima berbagai dokumen rahasia intelijen terkait pergerakan kelompok tersebut.
"Kita mau tertibkan, jadi saya juga punya data-data intelligence, kalau dulu saya di luar pemerintah, sekarang saya presidennya, jadi tiap hari saya dapat laporan intel,” ujarnya.
Pucuk pimpinan negara ini bahkan mengklaim telah mengantongi identitas para donatur penyebar pesimisme tersebut.
“Jadi saya ngertilah, saya sudah tahu siapa yang biayai-biayai,” imbuhnya.
Pemerintah saat ini masih memilih jalan persuasif menghadapi rentetan kritik tajam tersebut. Pendekatan berbasis pembuktian data faktual menjadi senjata utama meredam keraguan publik.
"Tapi sekarang saya masih berusaha dengan cara-cara yang meyakinkan, saya percaya dengan evidence based, dengan bukti, rakyat kita akan mengerti," ungkapnya.
Upaya penebaran rasa takut ini sangat merugikan mengingat seluruh elemen bangsa mendiami ruang hidup serupa. Kegoyahan stabilitas negara otomatis akan menyeret seluruh warganya ke jurang penderitaan.
“Karena kita satu negara ini kan satu kapal, kalau kapalnya oleng, mereka juga oleng,” tegasnya.
Kompetisi politik sejatinya merupakan rutinitas wajar dalam iklim demokrasi modern. Namun seluruh pihak wajib kembali merapatkan barisan persatuan usai selesainya siklus kontestasi pemilihan umum.
“Tiap lima tahun dipilkada, di pileg, di pilpres, tidak ada masalah, tapi harusnya negara ini kalau sudah selesai pertandingan-pertandingan itu harusnya kita bersatu kompak,” tuturnya.
Negara kini memfokuskan seluruh energi demi menjaga stabilitas perekonomian nasional di tengah gempuran dinamika global. Fondasi ketahanan finansial dalam negeri tergolong kokoh meredam berbagai kemungkinan terburuk.
“Kita menghadapi tantangan, kita siap terhadap skenario-skenario yang paling buruk, tapi kita punya kekuatan, negara kita punya kekuatan yang besar,” paparnya.
Momentum krisis global justru menjadi pelecut semangat percepatan transformasi ekonomi dan energi nasional.
“Menurut saya krisis justru mempercepat rencana transformasi kita, akhirnya kita dipaksa akselerasi, kita sudah mengerti masalahnya," pungkasnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar