periskop.id - Presiden Prabowo Subianto menyatakan pemerintah berhasil melakukan penghematan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga sekitar Rp800 triliun sebagai langkah antisipasi terhadap dampak krisis geopolitik, khususnya konflik di Timur Tengah.

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan fiskal di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Menurut Prabowo, langkah efisiensi ini menjadi strategi utama agar Indonesia tetap stabil menghadapi potensi tekanan eksternal.

Prabowo menegaskan bahwa pemerintah tidak menunggu krisis terjadi, melainkan telah lebih dulu mengambil langkah-langkah strategis untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang bisa berdampak pada perekonomian nasional.

Dia juga mengungkapkan telah meminta jajaran kabinet untuk menghitung dan memastikan capaian efisiensi anggaran yang telah dilakukan sejauh ini. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan efektivitas kebijakan yang sudah dijalankan.

"Saya punya menteri saya punya tim cukup bagus kita juga sudah ambil langkah-langkah pak bukan kita tunggu krisis kan kita antisipasi," ucap Prabowo dalam acara diskusi 'Presiden Prabowo Menjawab, Senin (23/3).

Dalam kesempatan yang sama, Prabowo juga meminta Menteri Sekretariat Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi untuk menjelaskan lebih rinci terkait jumlah realokasi dan efisiensi anggaran APBN yang telah dilakukan pemerintah.

Prasetyo menyampaikan bahwa efisiensi anggaran yang telah dicapai sementara ini mencapai sekitar Rp81 triliun. Angka tersebut merupakan tambahan dari langkah realokasi anggaran yang sebelumnya sudah dijalankan oleh pemerintah.

"Di luar itu, Bapak perintahkan untuk efisiensi kembali, kurang lebih sudah kami dapatkan sekitar Rp81 triliun," terang Prasetyo.