periskop.id - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan  sepanjang Januari hingga Februari 2026, total nilai eskpor mencapai US$44,32 miliar atau naik sebesar 2,19% jika dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

‎Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan ekspor non-migas, yang tercatat sebesar US$42,35 miliar atau naik 2,82 persen secara tahunan.

‎"Jika kita mencermati menurut sektornya, peningkatan nilai ekspor non-migas secara kumulatif ini terjadi di sektor industri pengolahan," ucap Ateng dalam konferensi pers, Rabu (1/4).

‎Sektor industri pengolahan memberikan kontribusi terbesar terhadap kenaikan ekspor non-migas dengan andil mencapai 5,36%. Komoditas utama yang mengalami peningkatan antara lain minyak kelapa sawit, nikel, kendaraan bermotor roda empat atau lebih, semikonduktor, komponen elektronik, serta produk kimia dasar organik berbasis hasil pertanian.

Di sisi lain, ekspor migas tercatat sebesar US$1,97 miliar atau turun 9,75% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

‎"Ekspor sektor industri pengolahan yang naik cukup besar yaitu minyak kelapa sawit, juga nikel, kendaraan bermotor roda 4 atau lebih, semikonduktor, dan komponen elektronik lainnya, serta juga ekspor kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian," terang dia.

‎Berdasarkan negara tujuan, ekspor non-migas ke China menunjukkan pertumbuhan signifikan, mencapai US$10,46 miliar atau naik 18,24 persen. Selain itu, ekspor ke Amerika Serikat, India, dan Uni Eropa juga mengalami peningkatan, meskipun ekspor ke kawasan ASEAN tercatat menurun. ‎

‎Secara bulanan, nilai ekspor pada Februari 2026 mencapai US$22,17 miliar atau naik 1,01% dibandingkan Februari 2025. Kenaikan ini didorong oleh ekspor non-migas yang tumbuh 1,30% menjadi US$21,09 miliar, sementara ekspor migas turun 4,25 persen menjadi US$1,08 miliar.

Lebih jauh, pihaknya mencatat sejumlah komoditas unggulan yang mendorong kenaikan ekspor, di antaranya lemak dan minyak nabati yang meningkat 16,19%, nikel dan produk turunannya melonjak 74,84%, serta mesin dan perlengkapan elektrik yang naik 28,43%.

‎"Yang ketiga, mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya atau HS85 naik juga cukup tinggi, yaitu sebesar 28,43% dengan andil 1,21%," tutupnya.