periskop.id - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa buka suara terkait pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut masyarakat di desa tidak menggunakan dolar Amerika Serikat (AS) dalam transaksi sehari-hari, di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Purbaya menegaskan, pernyataan Presiden Prabowo disampaikan dalam konteks kondisi masyarakat pedesaan yang aktivitas ekonominya lebih banyak menggunakan rupiah untuk kebutuhan sehari-hari.
"Konteksnya begini, itu kan bicara di pedesaan. Konteksnya di situ untuk orang sana. Bukan berarti Pak Presiden nggak ngerti Rupiah, dia kan jago beneran. Jadi konteksnya seperti itu," ucap Purbaya kepada media, Jakarta, Senin (18/5).
Saat ditanya mengenai dampak inflasi impor terhadap masyarakat desa, Purbaya menilai pengaruhnya tidak selalu signifikan secara teori ekonomi.
Menurutnya, dalam sejumlah literatur ekonomi, imported inflation tidak selalu memiliki dampak langsung dan cepat terhadap kondisi masyarakat, terutama di daerah pedesaan.
"Emang mereka ngerti imported inflation? Berapa ngerti kalau mereka dijelasin? Imported inflation secara teoritis nggak terlalu signifikan. Kalau kamu baca buku-buku ekonomi. Kadang-kadang jelas, kadang-kadang nggak. Sebagian meragukan adanya imported inflation. Itu kan bahasa populer kan. Coba selama ini itu pasti ada delay dan kadang-kadang juga hilang. Jadi itu kalau di buku-buku, kadang-kadang buku teks ya yang betul ya, kadang-kadang ada, kadang-kadang nggak, kadang-kadang ada yang meragukan gitu," terang Purbaya.
Sebagai informasi, Presiden Prabowo Subianto menepis pesimisme sejumlah pihak mengenai ancaman keruntuhan ekonomi nasional akibat fluktuasi nilai tukar mata uang asing.
Ia menegaskan fundamental perekonomian domestik saat ini berada dalam kondisi sangat tangguh. Kepala Negara merespons langsung analisis miring yang kerap menakut-nakuti publik mengenai krisis moneter.
"Sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos," kata Prabowo di Kabupaten Nganjuk, Sabtu (16/5).
Purnawirawan Jenderal bintang empat ini mengaku heran dengan narasi pesimistis terkait pergerakan nilai tukar mata uang yang memicu keresahan. Ia menilai kepanikan atas pergerakan dolar Amerika Serikat sama sekali tidak mencerminkan realitas kehidupan warga akar rumput.
"Rupiah begini, dolar begini, rakyat di desa tidak pakai dolar," tegasnya.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar