Periskop.id - Kawasan Asia kini tengah menghadapi tantangan energi yang luar biasa besar. Melansir The Guardian pada Rabu (1/4), pemerintah di berbagai penjuru Asia mulai meningkatkan kembali penggunaan batu bara.
Langkah ini diambil sebagai upaya darurat untuk menutup defisit energi yang dipicu oleh eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Keputusan ini memicu gelombang peringatan dari para ahli iklim. Batu bara selama ini dianggap sebagai bahan bakar fosil paling kotor dengan dampak kerusakan lingkungan yang sangat masif.
Para ahli menekankan bahwa krisis ini seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk beralih ke energi terbarukan yang lebih stabil dan tidak rentan terhadap gejolak harga global.
Strategi Bertahan di Berbagai Negara Asia
Kawasan Asia kini tengah berjuang keras menambal lubang besar dalam pasokan energi mereka yang biasanya sangat bergantung pada impor dari Timur Tengah.
Di Asia Timur, Pemerintah Korea Selatan secara resmi menyatakan akan menunda rencana penutupan sejumlah pembangkit listrik tenaga batu bara demi menjaga stabilitas nasional.
Tidak hanya itu, Seoul juga mencabut batasan produksi listrik dari sektor tersebut untuk memastikan kebutuhan energi dalam negeri tetap terpenuhi di tengah krisis global yang sedang berlangsung.
Langkah serupa juga diambil oleh negara-negara di Asia Tenggara sebagai bentuk respons terhadap kondisi darurat. Thailand mulai memacu produksi di pembangkit batu bara terbesar di negaranya hingga mencapai kapasitas maksimal.
Sementara itu, Filipina yang telah menetapkan status darurat energi nasional akibat dampak perang, kini berencana untuk terus meningkatkan operasi berbagai pembangkit listrik berbasis batu bara guna menghindari kelumpuhan aktivitas ekonomi.
Kondisi yang tidak jauh berbeda terjadi di Asia Selatan, di mana India yang mengandalkan batu bara untuk hampir 75% pasokan listriknya, menginstruksikan seluruh pembangkit untuk beroperasi pada kapasitas penuh. Strategi ini diambil secara agresif demi menghindari pemadaman listrik terjadwal yang dapat mengganggu industri.
Di saat yang sama, Bangladesh juga mulai meningkatkan pembangkitan listrik berbasis batu bara serta menambah volume impor komoditas tersebut sejak Maret lalu sebagai langkah antisipasi terhadap krisis yang kian memuncak.
Lumpuhnya Jalur Gas Alam Cair (LNG)
Kekurangan pasokan yang paling terasa adalah pada Gas Alam Cair (LNG), yang sebelumnya digadang-gadang sebagai bahan bakar transisi menuju energi bersih. Penutupan efektif Selat Hormuz, yang merupakan jalur bagi seperlima pengiriman LNG global, telah melumpuhkan distribusi. Serangan terhadap fasilitas ekspor utama di Qatar memperparah kondisi ini.
Henning Gloystein, direktur pelaksana energi dan sumber daya di Eurasia Group, menjelaskan bahwa sekitar 30 miliar meter kubik LNG telah hilang dari rantai pasok global, dengan 80% dampak dirasakan di kawasan Indo-Pasifik.
“Pasar global dalam empat minggu berubah dari surplus pasokan yang cukup sehat menjadi defisit yang sangat parah. Ini tidak hanya akan memicu lonjakan harga, tetapi juga kekurangan bahan bakar secara nyata,” kata Gloystein.
Menurutnya, penggunaan batu bara di situasi saat ini adalah pilihan yang masuk akal, terutama bagi negara yang memiliki cadangan batu bara.
“Negara yang memiliki cadangan batu bara akan menggunakannya karena itu cara tercepat dan termurah untuk menggantikan LNG,” jelas Gloystein.
Peringatan dari Para Ahli Iklim
Meski menjadi solusi instan, penggunaan batu bara dianggap sebagai langkah mundur bagi kesehatan planet. Pauline Heinrichs, pakar iklim dari King’s College London, menegaskan bahwa krisis ini harus menjadi titik balik.
“Dampak batu bara terhadap iklim dan kesehatan sangat merusak dan berbahaya, dan hal ini sudah terbukti selama puluhan tahun. Tidak hanya memperburuk risiko iklim, tetapi juga polusi dan dampak racun,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa ekonomi dengan porsi energi terbarukan yang besar justru lebih tahan terhadap guncangan.
“Kita harus belajar bahwa ini adalah momen untuk memutus siklus merespons guncangan energi berbasis fosil jangka pendek dengan investasi baru pada bahan bakar fosil, karena itu tidak pernah benar-benar jangka pendek, melainkan investasi infrastruktur jangka panjang,” tambah Heinrichs.
Senada dengan hal tersebut, Dinita Setyawati, analis energi senior untuk Asia di lembaga pemikir Ember yang berbasis di Jakarta, turut memberikan pandangannya.
“Tidak berkelanjutan untuk bergantung pada batu bara,” kata Dinita.
Menurutnya, pemanfaatan energi terbarukan domestik merupakan kunci utama untuk meningkatkan keamanan dan ketahanan energi jangka panjang.
Tinggalkan Komentar
Komentar