iklan periskop
Ekonomi

Impor Konsumsi Anjlok 10,81%, Sinyal Daya Beli Melemah?

Impor barang konsumsi turun 10,81% pada Maret 2026, sementara total impor masih tumbuh ditopang bahan baku.

3 bulan yang lalu · 2 mnt baca
Tarif Resiprokal 19% Antara Indonesia dan AS Berlaku 7 Agustus 2025
Suasana aktivitas bongkar muat kontainer di IPC Terminal Peti Kemas, Tanjung, Jakarta Utara, Senin (26/5/2025). Foto oleh Periskop/Arief Rachman
Ukuran teks
Sedang

periskop.id - Aktivitas impor Indonesia mencatat perlambatan pada kelompok barang konsumsi di tengah masih tumbuhnya total impor pada awal 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan impor barang konsumsi pada Maret 2026 mengalami kontraksi secara tahunan

“Selanjutnya nilai impor barang konsumsi secara tahunan turun sebesar 10,81%,” ungkap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono, Senin (4/5).

Penurunan impor barang konsumsi tersebut terjadi di tengah peningkatan total impor Indonesia pada periode Januari hingga Maret 2026 yang tercatat mencapai US$61,30 miliar atau naik 10,05% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, impor migas tercatat sebesar US$8,33 miliar atau turun 1,72%, sedangkan impor non-migas mencapai US$52,97 miliar atau naik 12,16%.

BPS mencatat, peningkatan impor secara kumulatif terutama ditopang oleh impor bahan baku penolong yang mencapai US$43,17 miliar atau naik 6,89% dengan andil 5% terhadap total impor.

“Peningkatan nilai impor bahan baku penolong itu mencapai US$43,17 miliar atau naik sebesar 6,89% dibandingkan periode yang sama pada tahun yang lalu,” jelas Ateng.

Secara lebih rinci, penurunan impor barang konsumsi antara lain terjadi pada kendaraan dan bagiannya yang turun 46,69%, mesin dan peralatan elektrik serta bagiannya turun 50,93%, serta produk farmasi yang turun 18,30%.

BPS juga mencatat, pada Maret 2026 total impor mencapai US$19,21 miliar atau meningkat 1,51% secara tahunan. Namun, secara komposisi, impor barang konsumsi tetap mengalami tekanan di tengah kenaikan impor bahan baku penolong dan barang modal.

“Nilai impor bahan baku penolong sebagai pendorong utama kenaikan impor ini naik 2,15% dengan andil terhadap peningkatan sebesar 1,53%,” ujar Ateng.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Daya Beli Masyarakat, impor, konsumsi, dan Badan Pusat Statistik (BPS) dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.