periskop.id - Inflasi April 2026 tercatat sebesar 0,13% secara month to month (mtm) dan 2,42% secara year on year (yoy). Sementara itu, inflasi inti tercatat 2,44% yoy dengan andil 1,56% terhadap inflasi umum.

Komponen inflasi inti didorong oleh sejumlah komoditas, di antaranya emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, serta biaya kuliah akademi atau perguruan tinggi.

“Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen inti terutama emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk dan juga biaya kuliah akademi atau perguruan tinggi,” ungkap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono, Senin (4/5).

Untuk komponen harga bergejolak, inflasi tercatat sebesar 3,37% yoy dengan andil 0,56% terhadap inflasi umum. Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok ini adalah daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras.

Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi 1,53% yoy dengan andil 0,30%. Komoditas pendorong utamanya adalah tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin (SKM), dan sigaret kretek tangan (SKT).

Secara sektoral, kelompok transportasi menjadi penyumbang utama inflasi April 2026 dengan andil sebesar 0,12%. Komoditas yang paling berkontribusi pada kelompok ini adalah tarif angkutan udara dan bensin.

“Penyumbang utama inflasi pada kelompok transportasi yaitu tarif angkutan udara dan juga bensin,” beber Ateng.

Inflasi kelompok transportasi juga dipengaruhi kenaikan tarif angkutan udara yang tercatat sebesar 15,25% secara mtm pada April 2026. Selain itu, harga bensin turut memberikan tekanan inflasi pada kelompok ini.

Secara keseluruhan, inflasi April 2026 dipengaruhi oleh tiga komponen utama yaitu inflasi inti, harga bergejolak, dan harga yang diatur pemerintah, dengan kontribusi terbesar berasal dari kelompok transportasi.