Periskop.id – Pemerintah mulai serius mengkaji penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai pengganti LPG tabung 3 kilogram untuk rumah tangga. Langkah ini dinilai strategis untuk menekan impor energi sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut, CNG bukan teknologi baru. Selama ini, energi tersebut sudah digunakan di berbagai sektor seperti perhotelan, restoran, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, pemanfaatannya masih terbatas pada tabung berkapasitas besar.

“Untuk ukuran 3 kilogram, tabungnya masih dalam tahap uji coba karena tekanannya cukup besar. Dalam dua hingga tiga bulan ke depan kami harapkan sudah ada hasilnya,” kata Bahlil.

Saat ini, pemerintah tengah mengembangkan tabung CNG berukuran kecil setara LPG 3 kg. Tantangan utama terletak pada aspek teknis, terutama tekanan gas yang mencapai 200 hingga 250 bar, jauh lebih tinggi dibanding LPG.

Dorongan penggunaan CNG tidak lepas dari tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG. Berdasarkan data Kementerian ESDM, konsumsi LPG nasional mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri hanya sekitar 1,6–1,7 juta ton. Artinya, lebih dari 70% kebutuhan LPG masih bergantung pada impor.

Dengan kondisi tersebut, CNG dinilai menjadi alternatif yang menjanjikan karena seluruh bahan bakunya berasal dari dalam negeri. Secara ekonomi, Bahlil memperkirakan harga CNG bisa lebih kompetitif dibanding LPG.

Ia juga menyebut, penggunaan CNG berpotensi sekitar 30% lebih murah karena tidak bergantung pada impor dan memiliki biaya distribusi yang lebih rendah. “Semua masih dikaji, termasuk kemungkinan subsidi dan besaran volumenya,” ujarnya.

Cadangan Gas Domestik
Optimisme pemerintah terhadap CNG juga didukung temuan cadangan gas baru di dalam negeri, termasuk di Kalimantan Timur. Sumber gas ini dapat diolah dari komponen gas alam seperti metana (C1) dan etana (C2), yang kemudian dikompresi hingga tekanan tinggi.

Saat ini, terdapat sekitar 57 badan usaha niaga CNG di Indonesia yang telah memanfaatkan teknologi tersebut, terutama untuk kebutuhan industri dan transportasi. “Kalau CNG itu adalah dari gas, tapi dia dari gas cair C1, C2. Dan itu industri di dalam negeri kita banyak,” kata Bahlil.

Pemerintah sendiri menilai pemanfaatan CNG menjadi bagian penting dari strategi diversifikasi energi nasional, di tengah ketidakpastian geopolitik global yang memengaruhi pasokan energi. Selain CNG, pemerintah juga mengembangkan berbagai alternatif lain seperti biodiesel B50, Dimethyl Ether (DME) sebagai substitusi LPG, hingga optimalisasi produksi minyak dan gas dalam negeri.

“Tapi kalau untuk CNG, itu sebagian sudah dipakai. Untuk hotel, restoran, itu sudah dipakai. Sebagian SPBG sudah juga dipakai. Dan itu bahan bakunya tidak kita impor, semuanya dalam negeri. Nah ini yang coba kita, kita cari alternatif. Karena di era geopolitik yang tidak menentu, kita harus mencari formulasi untuk mencapai survival mode. Semua produksi yang ada di dalam negeri, itu yang kita prioritaskan,” jelas Bahlil

Ke depan, hasil uji coba tabung CNG ukuran kecil akan menjadi penentu apakah program konversi ini bisa diterapkan secara luas ke rumah tangga. Jika berhasil, pemerintah membuka peluang konversi bertahap dari LPG ke CNG, terutama untuk masyarakat pengguna subsidi.

Langkah ini dinilai tidak hanya mengurangi beban impor, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional dengan memaksimalkan sumber daya dalam negeri.