Periskop.id - Bank Indonesia (BI) kini tengah berada dalam persimpangan kebijakan yang krusial. Mayoritas ekonom memprediksi bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga kebijakan utamanya sebesar 25 basis poin pada pertemuan Rabu (20/5).
Langkah pengetatan ini dinilai sebagai respons mendesak terhadap pelemahan nilai tukar rupiah yang kian mengkhawatirkan di pasar global.
Nilai tukar rupiah sebenarnya sudah berada di bawah tekanan bahkan sebelum pecahnya konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran pada 28 Februari lalu.
Saat itu, pasar mencemaskan pengelolaan fiskal atau kebijakan pendapatan dan belanja negara, serta independensi bank sentral. Namun, sejak konflik pecah, rupiah tercatat telah melemah sekitar 5 persen.
Meskipun BI telah rutin melakukan intervensi valuta asing (valas), para ekonom menilai langkah tersebut belum cukup. Kondisi inilah yang mendorong kuatnya ekspektasi akan adanya kebijakan moneter yang lebih ketat.
Proyeksi Kenaikan BI7DRR dan Fasilitas Perbankan
Berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan Reuters pada periode 11 sampai 18 Mei, sebanyak 16 dari 29 ekonom memperkirakan Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga acuan dari 4,75% menjadi 5,00% pada Rabu esok.
Selain itu, dua instrumen perbankan lainnya juga diperkirakan akan ikut naik masing-masing sebesar 25 basis poin. Suku bunga fasilitas simpanan overnight diprediksi naik menjadi 4,00%. Sementara itu, bunga fasilitas pinjaman diperkirakan naik menjadi 5,75%.
Tay Qi Hang, seorang ekonom di Economist Intelligence Unit, menyoroti bahwa faktor mata uang menjadi penggerak utama dalam rencana ini.
“Saya pikir alasan utama kenaikan suku bunga adalah depresiasi rupiah dalam sebulan terakhir,” katanya.
Tay menambahkan adanya isu kepercayaan dari para pemodal global.
“Pada dasarnya, ini bermuara pada kurangnya kepercayaan pasar terhadap langkah-langkah yang diambil BI dan pemerintah Indonesia untuk melindungi rupiah. Investor menilai langkah-langkah tersebut belum cukup,” ujarnya.
Perdebatan di Kalangan Ekonom
Walaupun mayoritas tipis memprediksi kenaikan, hampir separuh dari ekonom yang disurvei justru memperkirakan Bank Indonesia akan tetap mempertahankan suku bunga di level 4,75%.
Kelompok ini menilai BI masih akan mengandalkan cadangan devisa untuk melakukan intervensi pasar daripada mengubah suku bunga acuan.
“Bank sentral Indonesia tampaknya semakin khawatir terhadap pelemahan rupiah. Namun, untuk saat ini, kami menduga BI akan tetap mengandalkan intervensi valas daripada menaikkan suku bunga,” ungkap Jason Tuvey, deputy chief emerging markets economist di Capital Economics.
Di sisi lain, para pengamat menyebutkan bahwa jika kenaikan suku bunga benar-benar dilakukan pekan ini, hal itu bisa menjadi sinyal dimulainya siklus pengetatan moneter atau periode di mana bank sentral secara berurutan menaikkan suku bunga untuk meredam risiko ekonomi.
Inflasi Masih Jinak: Langkah Antisipatif Bank Indonesia
Salah satu alasan mengapa kenaikan suku bunga ini dianggap masuk akal adalah kondisi inflasi domestik yang masih relatif terkendali. Inflasi sendiri bermakna kenaikan harga-harga barang dan jasa secara umum dalam jangka waktu tertentu.
Pada bulan lalu, inflasi tercatat sebesar 2,42%, masih berada dalam rentang target sasaran BI yaitu 1,5% sampai 3,5%.
Keberhasilan menjaga inflasi ini tidak lepas dari peran subsidi pemerintah yang melindungi daya beli konsumen dari lonjakan harga bahan bakar minyak global.
Lavanya Venkateswaran, Ekonom Senior ASEAN di OCBC Bank, menilai kenaikan suku bunga kali ini bersifat sebagai tindakan pencegahan sebelum masalah membesar.
“Inflasi belakangan ini cukup jinak, sehingga kenaikan ini bisa disebut sebagai kenaikan pre-emptive. Namun, kami tidak menutup kemungkinan adanya kenaikan lanjutan dari sini,” kata Lavanya.
Langkah pre-emptive atau antisipatif ini diambil agar ketidakpastian nilai tukar tidak merembet menjadi inflasi impor atau imported inflation yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi nasional di masa depan.
Proyeksi Akhir Tahun 2026
Melihat ke depan, median proyeksi dari 20 ekonom menunjukkan bahwa suku bunga utama BI diperkirakan akan menutup tahun 2026 di level 5,00%.
Namun, konsensus ini masih sangat cair. Sejumlah responden memilih untuk tidak memberikan proyeksi akhir tahun mengingat tingginya ketidakpastian geopolitik global yang dapat mengubah arah kebijakan moneter sewaktu waktu.
Keputusan BI pada hari Rabu nanti akan menjadi jawaban bagi pasar apakah otoritas moneter Indonesia akan memilih langkah agresif demi menjaga nilai tukar, atau tetap bertahan pada strategi intervensi pasar yang sudah berjalan.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar