periskop.id - Periskop.id- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan pelemahan. Pada penutupan perdagangan hari ini Rabu (3/6) Rupiah ditutup di level Rp17.966 per dolar atau 127,5 poin.
Menteri Keuangan sekaligus Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pergerakan nilai tukar rupiah saat ini masih berada dalam kewenangan Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter. Karena itu, pemerintah menyerahkan langkah stabilisasi nilai tukar kepada bank sentral.
"Tapi kalau kita bisa melihat ada koordinasi yang bisa ditingkatkan sehingga memperbaiki nilai tukar, kita akan lakukan. Tapi kan sekarang itu masih dalam jurisdiksi Bank Sentral kita. Kecuali Bank Sentral minta rapat cepat, ya kita akan rapat cepat," kata Purbaya kepada media, di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (3/6).
Meski rupiah terus mengalami tekanan dan mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS, Purbaya menilai pelemahan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir lebih banyak dipengaruhi sentimen pasar dibandingkan faktor fundamental ekonomi.
Menurutnya, berbagai isu dan spekulasi yang beredar di kalangan pelaku pasar turut memengaruhi pergerakan rupiah. Ia bahkan membantah kabar yang menyebut dirinya meminta perbankan melakukan simulasi atau stress test terhadap skenario pelemahan rupiah hingga melampaui level Rp18.000 per dolar AS.
"Enggak lah, kalau kita lihat kan tiba-tiba aja penguatannya, pelemahannya 1-2 hari ini, kan. Ada isu macam-macam, ada rumor macam-macam di pasar. Ada yang bilang saya suruh perbankan melakukan stress-stress kalau rupiahnya Rp18.000 lebih," terang dia.
Meski demikian, KSSK tetap melakukan koordinasi rutin dengan seluruh anggotanya untuk memantau perkembangan ekonomi dan sektor keuangan. Purbaya menjelaskan rapat tingkat deputi KSSK dilakukan setiap bulan guna membahas berbagai perkembangan dan memberikan masukan terkait kondisi perekonomian nasional.
"Setiap bulan kita ada rapat deputi, kan? Setiap bulan mereka diskusi terus, ngasih masukan ke kita. Tapi kalau masalah nilai tukar, Bank Sentral adalah ahlinya. Kita serahkan ke Bank Sentral," tegasnya.
Lebih lanjut, Purbaya menegaskan fokus pemerintah saat ini adalah menjaga dan memperkuat fondasi ekonomi nasional melalui berbagai kebijakan yang mendorong pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, fundamental ekonomi yang kuat akan menjadi faktor utama yang menentukan arah nilai tukar rupiah dalam jangka panjang.
"Supaya ekonominya berjalan terus semakin cepat, semakin cepat, semakin cepat. Karena pada akhirnya kita percaya rupiah akan ditentukan oleh fondasi ekonominya. Untuk saya fokusnya di situ," tutup dia.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar