periskop.id – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong pengembangan industri susu nasional melalui sejumlah kebijakan.

 

Advertisement

Langkah tersebut dilakukan lewat percepatan hilirisasi, peningkatan kualitas bahan baku, inovasi produk, serta penguatan kemitraan industri dan peternak.

 

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, rendahnya konsumsi susu di Indonesia menjadi peluang besar bagi pengembangan industri pengolahan susu nasional ke depan.

 

“Industri susu memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung peningkatan kualitas gizi masyarakat. Rendahnya tingkat konsumsi susu di Indonesia justru menjadi peluang besar bagi pengembangan industri susu nasional ke depan," ujar Menperin di Jakarta, Rabu (3/6).

 

Susu merupakan komoditas strategis pendukung ketahanan pangan. Komoditas ini berperan penting menaikkan kualitas sumber daya manusia melalui pemenuhan gizi masyarakat.

 

Data World Population Review tahun 2022 menunjukkan konsumsi susu masyarakat Indonesia baru mencapai 17,76 liter per kapita per tahun. Angka tersebut masih berada di bawah capaian Malaysia, Singapura, dan Vietnam.

 

Kebutuhan bahan baku industri pengolahan susu nasional saat ini menyentuh 5 juta ton setara susu segar per tahun. Impor masih mendominasi pemenuhan kebutuhan tersebut hingga 80 persen.

 

Sementara itu, Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Putu Juli Ardika menegaskan pentingnya penguatan pasokan susu segar dalam negeri untuk memangkas ketergantungan impor tersebut.

 

“Penguatan rantai pasok susu segar dalam negeri melalui program kemitraan menjadi salah satu kunci utama. Sinergi antara peternak rakyat, koperasi, dan industri pengolahan susu perlu terus diperkuat guna menciptakan ekosistem industri persusuan yang terintegrasi, produktif, dan berkelanjutan,” tegasnya.

 

Kemenperin menyalurkan dukungan konkret pada sektor hulu melalui penyediaan teknologi cooling unit. Selain itu, digitalisasi Tempat Penerimaan Susu (TPS) terus digenjot untuk mendongkrak kualitas susu segar.

 

Program digitalisasi telah menyasar 96 TPS di bawah naungan sembilan koperasi di Jawa Barat dan Jawa Timur hingga tahun 2024. Agenda ini melibatkan lebih dari 12.000 peternak sapi perah.

 

Pemerintah juga meluncurkan aplikasi pemantauan pasokan susu segar dalam negeri. Aplikasi ini memonitor ketersediaan bahan baku industri memanfaatkan bantuan mesin dan peralatan digital tingkat koperasi.

 

Sistem digital tersebut diproyeksikan mampu meningkatkan efisiensi, transparansi, serta akuntabilitas rantai pasok industri susu nasional.

 

Fasilitas lain hadir lewat Program Restrukturisasi Mesin dan/atau Peralatan Industri Makanan dan Minuman. Aturan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 40 Tahun 2024.

 

Regulasi tersebut memberikan fasilitas pengembalian sebagian biaya (reimbursement) hingga 35 persen untuk pembelian mesin baru. Insentif ini berlaku bagi industri pengolahan susu, koperasi, maupun kelompok peternak mitra.

 

Pertumbuhan pendapatan masyarakat, tren gaya hidup sehat, dan program MBG dipercaya menjadi stimulus baru. Faktor-faktor ini akan memicu lonjakan investasi dan produktivitas industri pengolahan susu.

 

Putu menambahkan, berbagai stimulus tersebut diyakini memacu gairah sektor industri manufaktur makanan minuman.

 

Melalui HSN 2026, Kemenperin berharap kapasitas sektor hulu meningkat pesat. Kolaborasi erat industri dan peternak diharapkan melahirkan kemandirian serta daya saing pasar domestik secara berkelanjutan.