periksop.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo melaporkan Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Mei 2026 tercatat sebesar 3,08% secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi pada bulan sebelumnya sebesar 2,42% (yoy). 

‎Menurutnya perkembangan ini dipengaruhi oleh inflasi inti yang sedikit meningkat menjadi 2,59% (yoy) namun tetap didukung konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga ekspektasi inflasi. 

Advertisement

‎"Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) yang tetap terjaga di tengah semakin meningkatkan dampak global terhadap perkembangan harga-harga di dalam negeri," kata Perry dalam konferensi pers, Kamis (18/6).

‎Inflasi kelompok administered price (AP) naik menjadi sebesar 2,07% (yoy) seiring dengan penyesuaian harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) dan Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi, serta avtur sejalan dengan kenaikan harga energi global. 

‎Inflasi kelompok volatil food (VF) juga naik menjadi 6,24% (yoy) memengaruhi menurunnya pasokan akibat gangguan produksi karena cuaca dan berakhirnya musim panen raya. 

‎Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat respons bauran kebijakan moneter termasuk stabilisasi nilai tukar Rupiah guna memitigasi kenaikan inflasi impor agar inflasi tetap terkendali dalam target 2,5±1% pada tahun 2026 dan 2027. 

‎"Bank Indonesia juga terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat/Daerah (TPIP/TPID) melalui penguatan implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), termasuk untuk pencegahan gangguan cuaca ( El Nino ) harga pangan," tutup Perry.