Periskop.id - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari-Mei 2026 mencapai US$115,36 miliar, meningkat 3,02% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan ekspor nonmigas, meski ekspor migas masih mengalami penurunan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan nilai ekspor nonmigas pada Januari-Mei 2026 mencapai US`$110,19 miliar, atau tumbuh 3,89% secara tahunan. Sementara itu, ekspor migas tercatat sebesar US$5,17 miliar, turun 12,71% dibandingkan Januari-Mei 2025.

Menurut Ateng, peningkatan ekspor nonmigas terutama didorong oleh sektor industri pengolahan yang memberikan andil terbesar terhadap pertumbuhan ekspor, yakni 5,38%.

"Ekspor sektor industri pengolahan yang naik cukup besar terutama dari hasil produk olahan nikel, dari minyak kelapa sawit, kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, kimia dasar organik lainnya serta juga dari semi-alumunium," kata Ateng saat konferensi pers, Jakarta, Rabu (1/7).

Dari sisi negara tujuan, ekspor nonmigas ke Tiongkok mencatat pertumbuhan paling signifikan. Nilainya mencapai US$28,54 miliar, meningkat 17,68% dibandingkan periode Januari-Mei 2025.

Secara kumulatif, ekspor nonmigas Indonesia juga mengalami peningkatan ke lima negara atau kawasan tujuan utama, meski masih terjadi penurunan ke sejumlah negara tujuan lainnya.

Meski secara kumulatif masih tumbuh, BPS mencatat nilai ekspor pada Mei 2026 mencapai US$23,20 miliar, atau turun 5,73% dibandingkan Mei 2025. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh melemahnya ekspor migas yang turun 31,76% menjadi US$760 juta, serta ekspor nonmigas yang turun 4,50% menjadi US$22,45 miliar.

Ateng menjelaskan, penurunan ekspor nonmigas pada Mei 2026 terutama disebabkan melemahnya ekspor sejumlah komoditas utama. Di antaranya logam mulia dan perhiasan (HS71) yang turun 59,35%, bijih logam, terak, dan abu (HS26) yang anjlok 99,25%, serta besi dan baja (HS72) yang turun 14,68%.

"Kemudian yang kedua, biji logam terak dan abu atau HS26 itu turun 99,25 persen dengan andilnya minus 2,37%. Serta berikutnya besi dan baja atau HS72 ini turun sebesar 14,68% dengan andilnya minus 1,67%," paparnya.

Berdasarkan sektor, ekspor nonmigas pada Mei 2026 masih didominasi oleh industri pengolahan dengan nilai US$19,05 miliar, diikuti sektor pertambangan dan lainnya sebesar US$2,89 miliar, serta sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar US$500 juta.

Namun, secara tahunan sektor industri pengolahan mengalami penurunan 3,59% dengan andil terhadap penurunan ekspor sebesar 2,88%. Penurunan tersebut terutama dipicu melemahnya ekspor barang perhiasan dan barang berharga, minyak kelapa sawit, peralatan listrik lainnya, logam dasar bukan besi, serta logam dasar mulia.

Selain itu, ekspor sektor pertambangan serta pertanian, kehutanan, dan perikanan juga tercatat mengalami penurunan pada Mei 2026.

"Untuk ekspor sektor pertambangan dan lainnya, serta sektor pertanian, kehutanan dan perikanan juga mengalami penurunan," tttuo Ateng.