Periskop.id – Kenaikan harga bahan bakar minyak nonsubsidi mulai memengaruhi pertimbangan masyarakat dalam membeli mobil. Mazda Indonesia mencatat sejumlah calon pelanggan kini lebih berhati-hati karena turut memperhitungkan biaya penggunaan kendaraan setelah harga BBM mengalami kenaikan tajam.

Chief Operating Officer Mazda Indonesia Ricky Thio mengatakan, perubahan harga BBM tidak serta-merta membuat seluruh konsumen membatalkan pembelian. Namun, sebagian pelanggan mulai kembali menghitung kebutuhan dan biaya operasional sebelum mengambil keputusan.

"Ya, ada, beberapa pelanggan kami ada yang tanya, ada yang jadi berpikir-pikir, tapi, tugas kita adalah memberikan jawaban, menjelaskan dari segi nilai-nilai yang beda," kata Ricky di Jakarta, Rabu (15/7).

Menurut Ricky, perubahan besar yang terjadi di masyarakat tidak mungkin sepenuhnya terlepas dari keputusan konsumen. Kenaikan harga BBM menjadi salah satu faktor tambahan di tengah berbagai pertimbangan lain, seperti harga kendaraan, cicilan, biaya perawatan, serta kondisi daya beli.

"Jadi, saya rasa bohong kalau misalnya ada pergerakan yang cukup besar di pasar atau di masyarakat tidak memberikan dampak apa-apa," imbuhnya.

Meski mengakui terdapat dampak terhadap minat pembeli, Mazda belum memiliki data terperinci mengenai jumlah konsumen yang menunda atau membatalkan transaksi. Ricky menilai kondisi tersebut masih dapat dikelola melalui komunikasi dan penawaran nilai tambah kepada calon pelanggan.

"Ada, satu dua pasti ada. Tidak mungkin sama sekali tidak ada. Kalau saya bilang sama sekali tidak ada, itu artinya saya bohong. Tapi, bagaimana cara kita mengelolanya saja, dan bagaimana kita bisa tetap stabil," ucapnya.

Mazda berupaya menjaga penjualan dengan menjelaskan keunggulan produk, layanan, serta nilai kepemilikan kendaraan kepada konsumen. Strategi itu diharapkan dapat mempertahankan minat pembeli meski biaya penggunaan mobil ikut menjadi perhatian.

Pertamax Naik Menjadi Rp16.250 per Liter

Perubahan perilaku konsumen muncul setelah Pertamina menaikkan harga sejumlah BBM nonsubsidi pada Juni 2026. Harga Pertamax melonjak 32,1% dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Pertamax Green 95 juga naik 31,8% dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Sementara itu, harga Pertalite yang merupakan BBM bersubsidi tetap dipertahankan. Reuters mencatat Pertamax dan Pertamax Green menyumbang sekitar 7% dari total penjualan BBM domestik, sehingga dampak langsungnya tidak dirasakan oleh seluruh pengguna kendaraan.

Kenaikan tersebut membuat konsumsi bahan bakar berpotensi menjadi pertimbangan yang semakin besar bagi pembeli mobil. Konsumen tidak lagi hanya menghitung harga kendaraan dan angsuran, tetapi juga total biaya yang harus dikeluarkan selama masa kepemilikan.

Tekanan harga BBM belum sepenuhnya mereda karena pasar minyak global kembali bergejolak. Pada perdagangan 12 Juli 2026, harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 9 persen menjadi US$83,30 per barel setelah Amerika Serikat memberlakukan kembali blokade terhadap pesisir dan pelabuhan Iran.

Ketegangan AS dan Iran turut mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Sebelum konflik kembali meningkat, sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia melintasi jalur tersebut. Gangguan berkepanjangan berisiko mendorong harga minyak tetap tinggi dan memengaruhi harga energi di berbagai negara.

Daya Beli Masih Jadi Tantangan Industri Otomotif

Pengaruh kenaikan BBM muncul ketika pasar mobil nasional sebenarnya mulai menunjukkan pertumbuhan. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia mencatat penjualan mobil dari pabrik ke diler atau wholesalessepanjang Januari–Mei 2026 mencapai 359.015 unit, naik 12,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penjualan dari diler kepada konsumen atau retail sales pada periode tersebut mencapai 359.490 unit, tumbuh 8,8% secara tahunan. Meski meningkat, industri otomotif masih menghadapi risiko dari pelemahan daya beli, kenaikan harga kendaraan, kurs rupiah, dan gejolak ekonomi global.

Sekretaris Jenderal Gaikindo Kukuh Kumara sebelumnya menyebut kenaikan pendapatan masyarakat belum mampu mengikuti peningkatan harga kendaraan.

“Daya beli juga perlu didorong, karena harga mobil naiknya 7,5%, tapi potensi pembelinya naiknya cuma tiga persen. Jadi makin lama gap-nya kian lebar,” tuturnya.

Kondisi tersebut menunjukkan kenaikan harga BBM bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi pembelian mobil. Namun, tambahan biaya bahan bakar dapat memperbesar kehati-hatian konsumen yang sebelumnya sudah menghadapi harga kendaraan dan kebutuhan hidup yang meningkat.

Bagi produsen, situasi ini mendorong persaingan tidak lagi hanya bertumpu pada harga jual. Efisiensi bahan bakar, biaya perawatan, layanan purnajual, dan nilai penggunaan kendaraan dalam jangka panjang diperkirakan semakin menentukan keputusan konsumen.