Periskop.id - Bank Sentral AS Federal Reserve (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5% hingga 3,75% pada Rabu waktu setempat (29/7). Keputusan ini diambil di tengah desakan sejumlah pejabat internal yang justru menginginkan kebijakan moneter lebih ketat.
Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menjelaskan, bank sentral tidak akan memberi sinyal arah kebijakan suku bunga ke depan. Ia menegaskan, The Fed tetap berkomitmen mencapai target inflasi 2% lewat langkah-langkah yang diperlukan.
"Saya memahami keinginan untuk mendapatkan prakiraan dan komentar berkelanjutan dari komite ini, tetapi dari pihak kami, kami perlu mengamati reaksi pasar terhadap perkembangan secara langsung dan tanpa filter," kata Warsh dalam konferensi pers usai pengumuman keputusan suku bunga, Rabu (29/7).
Sebelum keputusan itu diambil, sejumlah pejabat The Fed disebut condong mendukung kenaikan suku bunga. Presiden Federal Reserve Dallas Lorie Logan secara spesifik menyatakan suku bunga seharusnya "sedikit" lebih tinggi dari level saat ini.
Presiden Federal Reserve Cleveland Beth Hammack, Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari, dan Gubernur Christopher Waller juga disebut mendukung kebijakan lebih ketat apabila inflasi terus berlanjut. Ketiganya diketahui berbeda pendapat dengan keputusan FOMC kali ini.
"Saya ingin menekankan, tentu saja, bahwa keputusan komite ini sangat penting, dan jika perlu dan tepat, kami tidak akan ragu untuk bertindak," ujar Warsh menegaskan sikap The Fed ke depan.
Pasar merespons cepat usai pertemuan tersebut. Imbal hasil obligasi Treasury bertenor 30 tahun melonjak ke 5,2%, level tertinggi sejak 2007, sementara imbal hasil obligasi 10 tahun naik lebih dari 7 basis poin menjadi 4,677%.
Data inflasi terbaru sempat memberi sedikit angin segar. Indeks harga konsumen mencatat penurunan mengejutkan sebesar 0,4% pada Juni, didorong turunnya harga bensin secara singkat.
Penurunan harga di SPBU tersebut belakangan berbalik arah dalam beberapa minggu terakhir. Situasi di Timur Tengah yang fluktuatif menjadi pemicu kenaikan kembali harga bahan bakar tersebut.
Mantan analis senior New York Fed yang kini menjabat wakil presiden bidang ekonomi dan riset pendapatan tetap Mutual of America Capital Management, Jerry Templeman, ikut menanggapi dinamika ini. Ia memperkirakan sejumlah data penting akan bermunculan menjelang pertemuan The Fed berikutnya.
"Kita akan mendapatkan serangkaian data menarik yang akan dirilis antara sekarang dan pertemuan bulan September. Jadi, saya rasa kita tidak akan selalu berada di posisi yang sama seperti sekarang," pungkas Templeman.
Tinggalkan Komentar
Komentar