periskop.id - Eskalasi konflik di Timur Tengah diperkirakan mendorong kenaikan harga emas dunia dan menekan nilai tukar rupiah. Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai serangan masif Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran menjadi sinyal meningkatnya risiko geopolitik global, terutama setelah muncul klaim mengenai meninggalnya pemimpin ulama Iran.
“Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang cukup masif, bahkan Trump sendiri mengatakan bahwa pemimpin ulama di Iran ini telah meninggal dunia, mengindikasikan bahwa ketegangan di Timur Tengah ini akan meningkat,” ujarnya, Senin (2/3).
Menurut dia, konflik berpotensi semakin meluas karena Iran telah melakukan serangan balasan terhadap wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
“Iran pun juga melakukan pembalasan terhadap Israel dan pangkalan-pangkalan Amerika yang ada di Timur Tengah. Kemungkinan besar perang ini akan terus meletup baik jangka pendek maupun jangka menengah,” imbuh Ibrahim.
Meningkatnya ketidakpastian geopolitik dinilai akan memperkuat permintaan aset safe haven seperti emas. Ia memperkirakan harga emas dunia berpotensi mengalami lonjakan sejak awal perdagangan berikutnya.
“Dalam perdagangan pagi ini kemungkinan besar akan terjadi gap-up. Harga emas bisa melompat di kisaran S$5.440 per troy ons, bahkan level S$5.500 bisa saja tercapai hanya dalam hitungan jam dalam dua hari perdagangan,” jelasnya.
Kenaikan harga emas global juga diperkirakan akan memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga emas domestik.
“Pasti rupiah akan mengalami kelemahan pada saat emas dunia mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Ketika rupiah melemah tajam, ini akan berdampak terhadap harga logam mulia,” katanya.
Di sisi lain, ia memperkirakan harga emas batangan di dalam negeri berpeluang kembali naik ke kisaran Rp3.300.000 hingga Rp3.400.000 per gram dalam waktu dekat.
Tinggalkan Komentar
Komentar