periskop.id - Pemerintah menargetkan percepatan pengolahan sampah menjadi energi listrik sebagai bagian dari strategi nasional pengelolaan lingkungan dan ketahanan energi. Program ini mencakup berbagai skema pengolahan, mulai dari waste to energy berskala besar hingga pengolahan sampah berbasis desa.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan Presiden Prabowo Subianto telah menyinggung rencana pemanfaatan sampah menjadi listrik, khususnya melalui proyek waste to energy berskala besar yang saat ini sudah siap dikerjakan di sejumlah lokasi.
“Yang besar, waste to energy itu ada 14%. Itu nanti akan dikerjakan, sudah siap lima, tahap dua dua belas, dan tahap tiga tujuh lokasi,” ujar Zulkifli Hasan dalam Indonesia Economic Outlook di Jakarta, Jumat (13/2).
Ia menjelaskan, capaian tersebut belum mencakup seluruh potensi pengolahan sampah nasional. Karena itu, pemerintah juga membuka ruang pengolahan sampah organik dan sumber lainnya yang dapat dikerjakan dari tingkat desa.
“Masih ada 18% yang nanti pengolahan organik dan dari sumber lainnya, dari level desa,” katanya.
Selain itu, Zulhas menyebut pengelolaan sampah melalui Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) juga menjadi peluang usaha yang terbuka bagi investor. Skema ini dinilai dapat diterapkan di berbagai wilayah dengan karakteristik berbeda.
“Ada TPS 3R sekitar 20%. Ini bisa menjadi peluang usaha bagi investor dari mana pun,” ujarnya.
Pemerintah juga tengah membahas pemanfaatan sampah sebagai bahan bakar alternatif atau refuse-derived fuel (RDF), termasuk di kawasan industri dan pabrik semen. Menurut Zulhas, minat pelaku usaha terhadap skema ini cukup tinggi.
“Masih ada lebih dari 28% yang sekarang didiskusikan untuk RDF. Banyak yang mau, ada yang 700 ton per hari, 800 ton per hari, sampai 500 ton per hari, bahkan ingin pakai waste to energy,” katanya.
Zulkifli Hasan menegaskan pemerintah menargetkan seluruh skema pengolahan sampah tersebut dapat dirampungkan dalam waktu dua tahun. Menurutnya, percepatan ini penting untuk mengurangi beban lingkungan sekaligus menghasilkan nilai tambah ekonomi dari pengelolaan sampah.
Tinggalkan Komentar
Komentar