Periskop.id - Komisioner Energi Uni Eropa Dan Jorgensen menyatakan, harga gas di Uni Eropa mengalami kenaikan hingga 70%. Sedangkan harga minyak meningkat 60% sejak awal konflik terjadi di kawasan Timur Tengah.

"Sejak awal konflik di Timur Tengah terjadi, harga-harga di Uni Eropa mengalami lonjakan 70% untuk gas dan 60% untuk minyak. Dalam hal finansial, selama 30 hari konflik telah terjadi penambahan 14 miliar euro (sekitar Rp273 triliun) pada tagihan impor bahan bakar fosil Uni Eropa," kata Jorgensen saat konferensi pers, Selasa (31/3), usai mengikuti konferensi video bersama para menteri energi Uni Eropa.

Ia menyebut, konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah kemungkinan akan menyebabkan gangguan berkepanjangan pada pasar energi. Bahkan jika permusuhan berakhir dalam waktu dekat.

Para menteri energi EU menggelar pertemuan melalui tautan video pada Selasam untuk mengoordinasikan respons. Berbicara setelah pertemuan tersebut, Jorgensen memperingatkan, dampak konflik ini tidak akan berlangsung singkat.

"Bahkan jika perdamaian terwujud besok, tetap akan ada konsekuensi," serunya, seraya menyatakan bahwa infrastruktur energi di kawasan itu telah mengalami kerusakan berat.
Siapkan Langkah
Komisi Eropa sendiri tengah menyiapkan serangkaian langkah untuk mengatasi dampak berkelanjutan pada pasar energi, serupa dengan langkah yang diambil selama krisis energi pada 2022.

Sambil menekankan, tidak ada solusi tunggal yang cocok untuk semua, Jorgensen mendesak negara-negara anggota untuk mempertimbangkan pengurangan permintaan minyak. Khususnya untuk bahan bakar diesel (solar) dan avtur, sambil memastikan perlindungan bagi kelompok rentan.

Pada 2022, EU memperkenalkan langkah-langkah darurat. Termasuk mekanisme penetapan harga maksimum gas, pajak keuntungan tak terduga (windfall levy) pada sebagian sektor energi, serta penetapan target untuk memangkas permintaan gas alam.
Seperti diketahui, Pada 28 Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, sehingga menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian melakukan aksi balasan dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer milik Amerika yang berada di Timur Tengah.

Eskalasi konflik di sekitar Iran telah menyebabkan blokade de facto Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama untuk pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global. Situasi itu juga berdampak pada tingkat ekspor dan produksi minyak di kawasan tersebut.