Periskop.id - Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menyampaikan PT Pertamina (Persero) akan menindaklanjuti arahan dan regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah, terkait rencana Indonesia membeli minyak dari Rusia.
“Saat ini, penjajakan masih di level pemerintah. Sebagai BUMN yang mengelola energi nasional, Pertamina akan menindaklanjuti sesuai arahan dan regulasi yang ditetapkan,” ujar Baron, Selasa (14/4) seperti dilasnir Antara.
Lebih lanjut, Baron menyampaikan, pada dasarnya, Pertamina terbuka terhadap berbagai peluang kerja sama untuk memastikan ketahanan dan keberlanjutan pasokan energi nasional. Dalam menyikapi peluang kerja sama tersebut, Baron mengatakan, Pertamina tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, kepatuhan, serta aspek komersial dan operasional.
Terkait dengan kecocokan spesifikasi minyak mentah atau crude dari Rusia untuk diolah di kilang milik Pertamina, Baron menyampaikan akan mempelajari lebih lanjut.
“Kami akan pelajari atas jenis crude (minyak mentah) tersebut. Dengan modernisasi kilang, ke depan diharapkan kilang Pertamina memiliki fleksibilitas untuk mengolah beberapa jenis crude,” ucap Baron.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan, pertemuan antara Presiden RI Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin membahas kerja sama energi secara konkret dan berorientasi pada kepentingan nasional.
Kerja sama tersebut mencakup pengembangan kilang minyak, penguatan perdagangan minyak, serta peningkatan pemanfaatan teknologi energi. “Dalam jangka panjang, Indonesia turut membuka peluang kolaborasi di sektor energi bersih. Sebagai upaya yang diarahkan untuk mendukung diversifikasi energi,” ujar Bahlil.
Amankan Pasokan
Seperti diketahui, gejolak pasar energi global yang masih mengalami tekanan turut memberi dampak pada stabilitas pasokan energi di banyak negara, termasuk Indonesia. Untuk menjaga ketahanan pasokan energi nasional, pemerintah terus mencari langkah-langkah strategis, salah satunya melalui penjajakan kerja sama dengan Rusia sebagai salah satu negara produsen energi dunia.
Senada, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyatakan, salah satu agenda utama yang dibahas dari pertemuan antara RI-Rusia adalah kelanjutan kerja sama energi. Termasuk upaya memastikan stabilitas pasokan energi nasional, khususnya minyak.
“Melanjutkan kerja sama dengan pemerintah Rusia dan memastikan pasokan energi nasional yang stabil, termasuk ketersediaan minyak,” kata Teddy.
Ia menambahkan, pembahasan ini menjadi relevan di tengah dinamika geopolitik dan perubahan lanskap energi global yang memengaruhi keseimbangan pasokan dan permintaan energi. Selain kerja sama energi, kedua kepala negara juga akan bertukar pandangan terkait perkembangan geopolitik global.
Indonesia akan menegaskan posisinya dalam menjaga stabilitas dan perdamaian dunia, sekaligus memperkuat kemitraan strategis dengan negara mitra.
US$59 Dolar/ Barel
Sementara itu, pakar energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti menilai, Indonesia bisa memperoleh minyak dengan harga US$59 per barel dari Rusia, lebih murah daripada harga minyak dunia. Saat ini, harga minyak dunia berada di kisaran US$100 per barel yang disebabkan oleh perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran.
“Betul. Andaikan dengan harga normal pun, yang sekitar US$60–US$70 per barel, minyak Rusia tetap lebih murah yaitu sekitar US$59 per barel,” ujar Yayan, Selasa.
Yayan memaparkan, setelah negara-negara barat menjatuhkan sanksi embargo terhadap minyak Rusia sejak 2022, harga minyak Rusia pada 2025 mencapai US$25 dolar AS per barel. Harga itu, lanjut Yayan, lebih rendah apabila dibandingkan dengan harga minyak dari Timur Tengah yang berada di level US$60–US$70 per barel.
Saat ini, dengan ditutupnya Selat Hormuz akibat perang antara AS-Israel melawan Iran, harga minyak dunia kian melonjak hingga di kisaran US$100 per barel. Bahkan, sempat menyentuh US$116 per barel.
“Kalau kita lihat berdasarkan asumsi penerimaan, pemerintah Rusia menetapkan harga minyak sebesar US$59 per barel,” ucap Yayan.
Lebih lanjut, Yayan menjelaskan, jika Indonesia membeli minyak dari Rusia dengan biaya logistik sekitar 30% dari harga minyak, maka harga minyaknya akan berada di kisaran US$76,7– US$80 per barel. Harga tersebut sudah termasuk biaya logistik.
Dengan demikian, biaya yang dibutuhkan untuk membeli minyak dari Rusia sekitar 31–51% lebih murah apabila dibandingkan dengan harga minyak dunia yang sempat mencapai US$116 per barel.
“Lebih efisien, atau bahkan lebih murah dari itu jika lobi antara Presiden Prabowo dengan Presiden Putin berhasil,” tutur Yayan.
Tinggalkan Komentar
Komentar