periskop.id - Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menegaskan pada Senin (13/4) bahwa kelompoknya tidak akan membuka jalur negosiasi langsung dengan Israel. Dalam pidato yang disiarkan al-Manar TV, ia menekankan bahwa “kami akan tetap berada di medan perang hingga napas terakhir,” sembari menolak inisiatif diplomatik yang dianggapnya sebagai bentuk “tunduk dan menyerah.”

Melansir Antara, Qassem menuding Israel, dengan dukungan Amerika Serikat, melakukan agresi yang menyasar Lebanon secara keseluruhan. Ia menyebut kerugian besar yang dialami masyarakat tidak menggoyahkan keteguhan para pendukung Hizbullah. 

Menurutnya, Israel gagal mematuhi perjanjian gencatan senjata November 2024 yang seharusnya menghentikan konflik 15 bulan dan memastikan penarikan pasukan dari Lebanon. Hingga kini, kedua pihak masih saling menuduh melanggar kesepakatan.

Israel menilai Hizbullah tidak melucuti senjata sesuai komitmen, sementara Hizbullah menegaskan pasukan Israel masih bercokol di wilayah Lebanon meski tenggat penarikan telah lewat. 

Qassem menilai diplomasi internasional tidak menghasilkan “hasil nyata,” sementara serangan terus berlanjut. Ia mendesak pemerintah Lebanon menegakkan isi perjanjian, termasuk pemulangan pengungsi, rekonstruksi wilayah rusak, serta pembebasan tahanan.

Pidato Qassem muncul menjelang pembicaraan langka antara duta besar Lebanon dan Israel di Washington, yang juga dihadiri pejabat AS. Namun Hizbullah menolak keras agenda tersebut, karena dianggap bertujuan melucuti persenjataan mereka dan menormalisasi hubungan dengan Israel. 

“Upaya semacam itu tidak memiliki konsensus nasional,” tegas Qassem.

Selain itu, ia mengkritik tekanan eksternal yang mendorong Lebanon mengonfrontasi Hizbullah. Menurutnya, penguatan tentara Lebanon tidak boleh mengorbankan stabilitas internal. Ia menyerukan persatuan antar faksi politik agar tidak memperdalam perpecahan domestik. 

“Perlawanan tetap menjadi satu-satunya pilihan menghadapi serangan berkelanjutan,” ujarnya.

Konflik terbaru kembali pecah pada 2 Maret, ketika Hizbullah meluncurkan roket dari Lebanon selatan ke arah Israel, menjadi serangan pertama sejak gencatan senjata 2024. 

Israel merespons dengan operasi militer intensif yang menewaskan lebih dari 2.000 orang di Lebanon. Data dari lembaga internasional menunjukkan bahwa eskalasi ini memperburuk krisis kemanusiaan, dengan ribuan warga sipil mengungsi dan infrastruktur vital hancur.